lilastory
Jumat, 03 Oktober 2014
Beku
Cinta adalah rangkaian lima huruf yang menyakitkan. Selama sekian tahun hidupku aku tak pernah mau lagi mengenal dia yang bernama cinta.
Sendiri adalah aku. Sepi adalah teman. Dingin adalah kawan. Semua itu adalah sahabat.
Aku tak pernah lagi mengenal dia yang bernama selama 15 tahun terakhir dalam hidupku. Semenjak hari itu, hari dimana dia meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Setelah janji yang terucap dari bibir kami masing-masing. Janiji selalu bersama tapi dia dengan mudahnya ingkar.
Konyol memang. Percaya dengan sangat pada seorang sahabat kecil. Tanpa mau melihat ke arah lain dan hanya menatap lurus ke arahnya.
Dia akan membuatku terbang ke langit biru, membawaku berlari di tengah taman berbunga, mengajakku tertawa layaknya ombak di lautan, hingga aku merasa akulah orang paling bahagia di dunia.
Hingga satu fakta menyadarkanku. Itu hanyalah janji sepasang anak kecil yang akan terlupakan seiring berjalannya waktu.
Samapi hatiku beku. Mati rasa. 15 tahun ku lalui dalam sendiriku. Aku tidak pernah tahu sampai kapan kebekuan ini akan berlangsung. Sampai kapan julukan es hidup akan melekat di diriku. Sampai esok? Lusa? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan atau bahkan sepuluh tahun yang akan datang aku tidak akan pernah menemukan jawabannya.
*
Aku lupa diri. Aku lupa akan keberadaan orangtuaku yang menyayangiku. Saudara-saudara yang mendukungku. Aku bahkan lupa dengan keberadaan sahabat yang selalu siap untukku. Aku lupa segalanya.
Yang ku ingat hanyalah apa yang sedang ku lakukan. Aku tidak mau repot-repot mengingat kemarin atau hari esok. Karena aku tidak mau dia hadir lagi bila aku menoleh. Aku tidak mau mengingat bahwa aku aku sendiri bila ku ingat hari esok itu ada. Yang ku ingat, yang ku tahu, yang ku mengerti dan yang ku pahami hanyalah saat ini aku semdiri, bertemankan kebekuan hati.
Terlintas sejenak kata mama kemarin, “ternyata mama masih kalah dengannya, orang yang baru kau temui kemarin. Mama yang mengenalmu sejak kau masih dalam bentuk janin, sekarang mama tidak lagi mengenal siapa dirimu. Mama kehilangan Wafi, anak mama. Dia hebat bisa merubahmu hanya dalam hitungan detik dan berhasil. Sedangkan mama butuh waktu 15 tahun bahkan lebih tapi mama selalu gagal, tidak pernah berhasil.” Keluh mama.
Tanpa sepatah kata ku tolehkan kepala ke arah mama. Hatiku mencelos saat ku lihat beliau menangis. Ini semua karena aku. Aku sungguh durhaka. Tapi kebekuan hatiku tidak sanggup merubah apapun.
Mati rasa.
“Maafka Wafi, ma.” Itulah kalimat terpanjang yang pernah ku ucapkan karena biasanya aku hanya akan menjawab dengan jawaban ya bila aku setuju dan tidak bila aku tidak setuju.
“Sedingin apakah dia sehingga membekukanmu sedemikian rupa samapai pelukan mama tak mampu menghangatkanmu? Dia lebih dingin dari es di kutub.” Itulah kesimpulan mama. Sebelum beliau mendekapku yang hanya membeku dalam pelukannya.
Mama salah bila pelukannya tak mampu menghangatkanku. Aku merasa hangat dipelukan mama. Namun entah mengapa tak mampu mencairkan kebekuan hatiku.
Mungkin memang hatiku sudah kadaluarsa beku.
*
Lagi. Ku lalui hariku tanpa kata. Tanpa ingin mencoretkan tinta di kertas putih. Hanya memainkan biolaku, menggesek dawai dengan lagu menyedihkan menyedihkan menyayat hati. Setelah bosan bermain aku mengambil kameraku dan berjalan keluar mencari objek menarik untuk difoto.
Ku langkahkan kaki di sepanjang trotoar menuju taman pinggir kota. Aku memang tak pernah membawa mobil, motor, sepeda atau apapun untuk bepergian selama masih dalam lingkup sekitar. Aku selalu mengandalakn kakiku.
Aku berhenti di sebuah taman yang terlihat sangat indah dengan ada jembatan kayu yang dibuat melengkung dan ditata di tengah di antara bunga yang bermekaran indah, untuk mempermanis taman. Aku terus melangkah menuju jembatan sambil terus menjepret sana sini, menjepret apapun yang ku suka.
Dari lensa kamera terlihat gadis berusia empat tahunan seang bermain boneka beruang besar yang lebih besar dari tubuh mungilnya. Cantik. gadis kecil yang sangat cantik.
Tanpa sadar kedua sudut bibirku melengkung ke atas, membentuk senyuman. Senyum yang sempat hilang selama 15 tahun terakhir.
Aku tak mau kehilangan momen ini. Terus ku jepretkan kameraku ke arahnya. Mengambil gambar sebanyak yang ku mau.
Tunggu! Kenapa dia sendirian? Kemana orang tuanya?
Aku melangkah di atas jembatan berjalan ke arahnya. Entah karena tidak melihat atau apa, aku menabrak seseorang hingga kameraku terjatuh.
“Maaf.” Kataku sambil menunduk, tanpa melihat ke arahnya, dan berniat mengambil kameraku. Pada saat yang sama orang tersebut juga berjongkok mengambil kameraku hingga tangan kami bertemu. Dan pada saat bersamaan ku dengar suara itu, “Kameramu terjatuh.” Suaranya terdengar berat. Ya, suara lelaki.
Aku terpaku hingga suara bening melengking nyaring memenuhi indera pendengarku, “Daddy…” begitu bunyi suara itu.
Dia berlari ke arah tempat aku berjongkok.
“Halo puteri kecil Daddy.” Ku dengar suara lain menyahut. Aku mendongak menatap gadis kecil gadis kecil tadi sembari perlahan berdiri. Lalu mengalihkan pandangan pada pria yang sedang menggendongnya. Tatapan kami bertemu, tepat di manic mata kami masing-masing. Aku membeku. ku lihat diapun sama terkejutnya dengan ku. Tubuhku lemas saat aku menyadari satu hal. Pria itu ‘dia’.…
end
(cerita ini terinspirasi dari iklan HP yang ku lihat di TV. tapi aku lupa HP apa nanti deh kalau udah ingat HP apa aku edit posting-an ini)
lilabila
Senin, 29 September 2014
awal yang baru..
hai semua... ini adalah awal baru bagiku. baru mau mulai menulis maksudnya. sampai jumpa di cerita-cerita abal-abal lila..
Postingan Lebih Baru
Beranda
Langganan:
Komentar (Atom)