Rabu, 25 Maret 2015

Love in Another World

Deg... deg... deg...

Tidak seperti biasanya. Kenapa tiba-tiba jantungku berulah? Padahal aku hanya sedang bermain handphone. Sedang berbicara dengan teman melalui handphone di aplikasi whatsapp. Tidak ada yang spesial memang, hanya chatting dengan teman kuliahku dulu. Itupun perempuan, sama seperti aku, aku juga perempuan. Karena memang teman-teman kuliahku dulu kebanyakan perempuan. Dari tiga puluh orang di kelas hanya ada tiga laki-laki dan selebihnya perempuan, namun di tahun ketiga kuliah manusia berjenis kelamin laki-laki hanya tersisa satu, yang lain kemana? Entahlah aku tidak tahu.

Saat ini, kami -aku dan temanku- sedang membicarakan suatu masalah yang tak kunjung kami selesaikan. Pekerjaan. Ya pekerjaan yang tak kunjung kami dapatkan. Walaupun kami sudah mengirim surat lamaran ke banyak instansi tapi tak juga ada panggilan kerja yang kami dapatkan.

Jangan heran jika setelah lulus kami belum juga mendapat pekerjaan karena disini -di tempatku- KKN itu masih berlaku. Memang sih bukan KKN seperti zaman dulu, emmm... maksudku korupsi memang tidak ada -atau ada tapi aku tidak tahu, entahlah- tapi kolusi dan nepotisme-nya masih marak disini. Jadi, bisa dikatakan orang kaya akan menjadi semakin kaya dan begitupun sebaliknya. Orang miskin akan semakin terpuruk dalam kemiskinan.

Hey, kenapa aku bicara tidak jelas kemana arahnya begini? Oke kembali ke pokok permasalahan yang ku hadapi. Bukan. Bukan tentang sulitnya mencari pekerjaan tapi tentang kenapa aku jadi berdebar hebat seperti ini.

apa yang membuatku melihat-lihat kembali kontak whatsapp, aku pun juga tidak tahu karena aku selalu chatting dengan orang itu-itu saja. Semakin ku geser layar ke bawah dan semakin aku berdebar.

Deg

Nama itu, nama yang selalu menghantuiku lima tahun terakhir ini. Nama yang selalu membuatku berdebar, nama yang terpatri rapi di hatiku dan nama yang selalu bertahta dengan sombongnya di istana hatiku.

Dia

Kenapa lagi-lagi muncul setelah menghilang tanpa kabar.

Joe Richard, apa kabar kau disana? Kemana saja selama lima tahun ini? Masih ingatlah dirimu akan diriku?

Dengan perasaan membuncah bahagia, kecewa, haru dan entahkan yang tak bisa ku sebutkan, aku mengirim pesan padanya.

Hi, how are you, there? Do you remember me?

Pending. Belum juga terkirim. Dia tidak sedang online. Lagi-lagi rasa kecewa menghampiriku. Untuk apa rasa kecewa itu sebenarnya? Bahkan mungkin saja dia tidak mengingatku dan melupakanku sama sekali. Lalu untuk apa aku terus mengingatnya?

Sembari menunggu terkirim, aku teringat peristiwa lima tahun lalu.

Hanya untuk mengisi waktu luang, aku iseng membuka aplikasi chatting yang cukup populer waktu itu. Bahkan temanpun aku tidak punya. Akhirnya aku mencari Chat room untuk mencari teman.

Mataku seolah terpaku pada satu chat room. Moz-maputo. Nama yang cukup unik ku rasa. Ku lihat profil room tersebut, hanya ada beberapa orang di sana, dan yang cukup mencengangkan adalah mereka semua berbahasa asing. Bahasa yang tak ku mengerti.

Aku semakin tertarik dengan Chat room tersebut. Akhirnya dengan bahasa inggris yang cukup pas-pasan aku masuk chat room.

Hi, All. Sapaku kala itu.

Namun tidak ada yang menjawabku dan seketika itu orang-orang dalam room berhenti beraktivitas. Mereka off.

Aku hanya bisa mendesah. Rupanya kehadiranku tidak diharapkan, setidaknya itulah yang ada di pikiranku. tidak apa-apa mungkin memang bukan tempatku.

Aku sudah hampir saja off ketika ada tanda private chat, yaitu ada lampu berwarna oranye berkedip-kedip.

Joe Richard: Hi, may I know you? Who are you? Your name I mean.

Aku tersenyum. Rupanya kehadiran ku masih diharapkan walau bukan dalam chat room, melainkan dalam bentuk private chat.

Bela: Hi, I'm Bela.

Joe Richard: ASL, please.

Bela: 17 years old. Female. Indonesia.

Joe Richard: i'm 23 years old. Male. Maputo.

Bela: Maputo? Where is it?

Joe Richard: Maputo is the capital of Mozambique.

Bela: Mozambique? So, you are front Africa?

Joe Richard: Yes, you are right.

Bela: wow, we are in a so different country. It is nice to see you, by the way.

Joe Richard: great to see you, too. By the way, canai we be friends?

Itulah awal perkenalan kami. Dia mengajakku berteman. Walaupun kemampuan berbahasa inggris ku sangat minim, tapi aku menyetujui permintaan pertemanannya. Hitung-hitung buat belajar. Tidak ada ruginya, bukan berteman sekalian belajar. Siapa tahu dia bisa bersabar mengajari ku berbicara bahasa inggris.

Waktu itu yang ada di pikiran ku hanya satu. Bila dia tidak bersabar mengajari ku, aku yakin dia pasti akan meninggalkan ku begitu saja. Tidak rugi di dia dan tidak rugi juga di aku. Itulah mengapa aku bersedia berteman dengannya.

Apa indahnya chatting dengan orang yang sangat minim kosakata? Ku rasa tidak ada indahnya sama sekali. Yang ada hanyalah harus punya stok kesabaran ekstra. Harus ekstra sabar menunggu setiap jawaban yang akan ku berikan karena tidak jarang juga aku harus membuka kamus ku hanya untuk menemukan kosakata yang tepat. Dan menemukan kosakata yang tepat tidak lah membutuhkan waktu yang sebentar. Selain itu dia juga harus bersabar menunggu aku selesai merangkai setiap kata yang ingin ku ucapkan. jadi benar, bukan dia harus punya kesabaran ekstra?

Pada awalnya aku meragukan itu.

Namun,seiring berjalannya waktu keraguanku mulai terkikis. Dia sangat,sangat dan sangat sabar teradapku. Sabar mengadapi aku yang selalu lambat ketika kami sedang chatting. Sabar dengan kemampuan bahasaku yang tak seberapa. Sabar mengajari aku bahasa inggris. Pokonya dia sangat sabar. Kesabarannya menghadapiku melebihi kesabaran yang kakakku miliki.

Bersama dia, banyak pelajaran yang ku dapat. Baik itu pelajaran berupa materi seperti yang ku dapat dari sekolah maupun pelajaran moral. Suatu pelajaran yang sangat berharga yang ku dapat darinya adalah tentang satu kata. Waktu.

Tentang bagaimana waktu satu detik itu bisa menjadi sangat berharga. Tentang bagaimana seorang manusia itu harus disiplin waktu. Tentang bagaimana dia sangat menghargai satu detik waktu seolah itu adalah hal yang sangat berharga dan sangat mahal yang harus dia pertahankan. Seolah waktu satu detik adalah segunung harta karun.

Pelajaran tentang waktu. Pelajaran yang tak pernah ku dapat dari lingkunganku, baik itu tetangga, teman dan kebanyakan orang yang pernah bersua dengan ku.

Pelajaran lain yang masih sama pentingnya dengan waktu yang ku dapat darinya adalah tentang janji. Tentang bagaimana seseorang harus berpegang teguh pada janji yang telah dia ikrarkan. Tentang bagaimana janji adalah sumber kepercayaan yang diciptakan manusia. Bila janji sudah terabaikan maka terabaikan pula lah kepercayaan orang yang telah kita beri janji.

Dua pelajaran yang terlalu berharga untuk diabaikan.

Dua pelajaran itulah yang pernah membuat kami bertengkar. Dan semuanya berasal dari aku. Bukan. Bukan berarti aku tidak menghargai waktu dan selalu mengabaikan janji. Tidak, bukan itu.

Karena, tentang waktu, aku selalu menghargai waktu setiap serikat, sama seperti dia. Aku juga selalu tepat waktu, bukan tepat waktu lagi melainkan in time apalagi yang namanya terlambat, aku tidak pernah melakukannya. Bila orang-orang di sekitar membicarakan acara jam 07.00 maka artinya adalah jam 08.00. Namun tidak bagiku, yang namanya jam 07.00 artinya tetap jam 07.00 bukan jam 07.05 apalagi jam 08.00. Aku sangat membenci jam karet mereka.

Karena tentang janji, aku juga selalu berpegang teguh pada janji yang telah ku ucapkan.

kembali pada masalah yang membuat kami bertengkar. Karena perbedaan waktu yang lumayan lama, kami sering membuat janji untuk online pada jam sekian. Namun, pada suatu keadaan aku tidak bisa menepati janji karena jaringan tidak memungkinkan. Jaringan internet sangat jelek waktu itu. Itulah mengapa aku tidak bisa online dan membiarkannya menungguku selama berjam-jam. Jadi itu salah siapa? Tentu saja itu salahku karena aku berjanji sementara aku tidak tahu bagaimana keadaan esok hari.

Maka, jangan pernah berjanji sementara kamu tidak tahu ada sesuatu apa yang sudah menantimu di depan.

Lagi-lagi, kesabarannya benar-benar membuat ku semakin jatuh dalam pesonanya. Tunggu, apa yang ku bilang tadi? Jatuh dalam pesonanya? Entahlah aku sendiri bingung. Karena aku mulai kecanduan chatting dengannya. Aku bahkan rela menghabiskan sisa waktuku hari ini hanya dengan chatting bersamanya.

Aku rela tetap terjaga hingga tengah malam hanya untuk menunggu dia online. Aku bersedia bangun dini hari hanya untuk menyapa dan mengucapkan good night padanya. Pun dia padaku, dia tidak pernah absen menyapaku. Dia selalu mengingatkanku ini itu yang sering aku lupakan.

Dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Namun dia juga satu-satunya orang yang berhasil menjerat ku dalam sejuta pesona yang ia miliki.

Hingga aku tersadar bahwa sesuatu yang maya selamanya akan tetap maya. Sesuatu yang maya pasti akan berakhir dengan segera. Sesuatu yang maya sulit untuk direalisasikan. Begitupun dia. Dia adalah satu-satunya yang paling berharga yang ku miliki di dunia maya. dan dia juga menghilang secepat dia datang.

Aku dengan kesibukanku di dunia nyata, begitupun dia. Aku sibuk dengan urusan sekolah ku. Dan dia juga pernah berkata akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri, entah Eropa, entah Amerika dia tidak mengatakan secara detail.

Joe Richard: I will go to abroad.

Bela: where?

Joe Richard: some where.

Bela: how long?  How long you will be somewhere?

Joe Richard: I don't know yet. May be until I finish my study there.

Bela: What the meaning of your status?  Tanyaku ketika ku lihat status yang dia tulis di aplikasi chatting yang kami gunakan.

Joe Richard: two hearts one love. That's the reflection of us. That is you and me, we have two hearts but the love of us is only one.

Di saat bersamaan, aku merasa sedih namun aku juga merasa sangat bahagia. Entahlah bila sederet kalimat yang dia ucapkan itu hanya untuk menghibur ku, aku pun tidak tahu.

Namun, satu hal yang selalu ku tahu. Dia selalu bisa membuat ku merasa menjadi yang ter. Menjadi wanita tercantik. Menjadi wanita terhebat. Menjadi wanita terpintar. Dan menjadi wanita ter- lainnya. Ku rasa aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Itulah pesan terakhir yang ku dapat darinya. Two hearts one love dua hati satu cinta.

Hari-haripun berlalu. Tanpa ada kabar darinya. Bagai menghilang di telan bumi. Hilang tanpa jejak. Apa kabarnya dia di sana?

Tetap sama. Masih tidak ada kabar darinya. Chat bahkan tidak terkirim. ku coba menghubungi nomor yang pernah dia berikan padaku namun hasilnya tetap sama. Setiap kali aku mencoba menelpon setiap kali itu pula selalu operator yang menjawab.

Mungkin memang hanya sampai disinilah kisah kami berakhir. Tanpa Kata good bye atau kata perpisahan lainnya.

*

I'm sorry. Who are you? Do we know each other? I've got short term memory.

Itulah jawaban yang ku dapat. Sejujurnya aku kecewa. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Karena aku tahu, waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang telah ia lakukanat, banyak hal pula yang telah ia lewatkan, banyak hal yang ia dapatkan dan banyak hal pula yang ia lupakan. Termasuk aku.

Walaupun aku sangat kecewa, tapi aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku dapat memahami bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi. Hey, aku sudah pernah bilang bukan bahwa hal yang semu itu mudah dilupakan. Begitupun aku. Aku hanyalah semu baginya. Aku tidak kaget sama sekali. Sungguh.

Aku masih menimbang handphone ku. Masih berpikir apakah aku harus membalas dan memberitahu nya tentang aku atau tidak. Ataukah aku membiarkan saja hal ini berlalu?

Karena aku tahu penantianku selama ini sia-sia. Aku terus mengingatnya dalam setiap langkah yang ku bawa. Aku tidak pernah melupakannya dalam setiap hembus nafas ku. Tapi aku bisa apa bila dia melupakanku?

drrrttt drrrttt handphone ku bergetar lagi. Asal kalian tahu,.aku tidak pernah memasang nada dering di handphone ku. Karena menurutku itu sangat berisik.

Satu pesan whatsapp masuk. Dari dia -Joe.

Oh, sorry sorry sorry. I now remember you. You are someone i knew long time ago, about five years ago, aren't you?

Seketika mataku berbinar. Aku bahkan sampai menitikkan air mata bahagia. Akupun tidak menyangka dia masih akan mengingat aku. Rasanya aku ingin tertawa dan berteriak bahagia. Ingin berteriak pada dunia bahwa aku sangat bahagia karena dia masih mengingat aku.

Jangan pernah berburuk sangka sebelum kau mendengar penjelasan langsung darinya.

Segera ku ketik pesan sebagai balasan you still remember me? Wow it is amazing. Great to know.

'How do you know me?'

I know you by your name and your phone number you gave to me long time ago.

'Wow, you are so smart, you have sharp memories. And you are so excellent. Wow, it's amazing. You can remember me just by my name.'

it's just an ordinary thing I think. I have only one Joe Richard in my life.

'There are so many Joe Richard outside. But you still remember me only by name. You're so excellent, you know?'

Sudah ku bilang bukan bahwa dia sangat lihai membuatku merasa menjadi yang ter … seperti Itulah contohnya. Wanita mana yang tidak akan meleleh jika setiap hari mendapat pujian.

Karena pada dasarnya wanita memang suka di puji.

Komunikasi kami masih berjalan lancar walau hanya dengan sebuah pesan singkat. Walau tidak setiap hari namun intensitasnya masih terbilang sering.  Kerena dia sibuk dengan pekerjaannya, mungkin. Dan aku sibuk dengan kegiatan sosialku bersama anak-anak kecil. Dan semakin kami sering berkomunikasi semakin bertambah pula rasa yang menumpuk dalam hatiku. Aku tahu ini hanya harapan semu.

Lagi-lagi masalah kehidupan datang menerpa, membuat ku tidak bisa berkirim pesan dengannya. Ibu meminta ku untuk menikah. Hah, yang benar saja. Bagaimana aku bisa menikah dengan orang lain sementara hatiku masih tertambat di tempat nun jauh di sana. Aku tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Hingga ibu menyita handphone ku. Itulah mengapa kami menjadi jauh kembali. Namun kali ini bukan kerena dia melainkan karena aku.

Butuh waktu lima bulan lamanya untuk meyakinkan ibu bahwa aku belum siap menikah sekarang. Mungkin setahun lagi, dua tahun, tiga tahun, atau … entahlah. Itu tidak penting kapan aku akan menikah. Yang terpenting sekarang adalah aku bisa meyakinkan ibu bahwa aku tidak akan menikah dalam waktu dekat ini. Alasan apa yang ku gunakan bukanlah hal penting juga.

Urusan dengan ibu beres. Aku kembali menghubungi dia, namun lagi-lagi aku kehilangan jejaknya. Aku tidak bisa menghubungi dirinya. Aku tidak bisa menggapai dirinya.

Mungkin kami memang belum berjodoh. Kyaaa!!!!  Apa yang ku katakan? Berjodoh? Sebegitu inginkah aku menghabiskan sisa hidupku bersamanya? Jawabnya adalah... ya.

Sudah beberapa hari dan aku masih belum bisa menggapai dirinya. Joe kenapa namamu selalu terngiang di telinga. Mungkin aku akan benar-benar gila. Ya gila karena dirinya.karena seseorang yang bernama Joe Richard.

Sudahlah. Biarlah semua berlalu. Hidup akan terus berjalan, bukan?

Handphone ku berdering nyaring ketika aku sedang mengajari keponakanku matematika. Segera ku lihat siapa penelponnya. Deg. Nomor ini. Aku tahu pemilik nomor ini.

Kenapa dia datang di saat aku sedang berusaha melupakan rasaku padanya?  Dan kenapa harus pergi di saat rasaku semakin menumpuk?

Hi. Sapaku setelah aku menjawab teleponnya.

'Hi. Bela? How are you by the way?'

Me? As usual I'm fine, it's better than yesterday.

'It sounds great. but the greatest thing is finding you on viber. I'm very glad to see you here, you know. It's so amazing to reach you here. We can keep in touch each other, we can make free call we can chat and I can hear your voice, I can hear you laugh. I love listening you laugh. I want to be there by your side. To take you in to my arms. To hold you tight. Bela, I love you.'

Suaranya. Aku langsung jatuh cinta pada suara itu. Suara yang terkesan lembut, ceria dan seksi. Aku jatuh cinta pada suaranya. Bukan. Bukan hanya pada suaranya tapi pada orangnya juga. Karena aku sudah jatuh cinta padanya.

Mendengar dia mengucap kata I love you adalah hal terindah yang pernah aku alami. Hal terindah yang pernah aku dengar.

Lagi-lagi hubungan kami mulai membaik. Aku juga mulai tahu hal apa yang dia sukai. Hujan. Ya, hujan. Dia bilang dia suka hujan. Bahkan kami pernah berkhayal bahwa kami sedang bermain di bawah guyuran air hujan. Dan dia akan memelukku selama itu. Ku rasa setelah ini aku juga akan menyukai hujan.

Namun lagi dan lagi. Hubungan baik itu kembali renggang ketika tanpa sadar aku membuat kesalahan. Aku mengirim pesan dengan emoticon menutup mulut dengan jari telunjuk. Dia marah besar waktu itu karena gerakan tangan seperti itu sangat kasar di negaranya.

Kami hidup di dua benua berbeda dengan budaya yang berbeda. Lembut dalam budayaku, namun kasar dalam budayamu.

Sungguh sulit menyatukan segala sesuatu di dalam lautan perbedaan.

Minta maaf adalah satu-satunya hal yang dapat ku lakukan. Dia bilang dia memaafkan ku. Namun kenyataannya, semenjak kejadian itu dia tidak lagi bisa ku gapai. Mengirim pesan, ku lakukan namun tak ada balasan. Menelpon, juga ku lakukan tapi tak juga ada jawaban. Dia seolah menghindar dariku, atau memang menghindar?

Mungkin memang itulah pesan terakhir yang ku terima darinya. Ucapan selamat tidur. Good night, in case you are in bed already.

*

Hujan. Hujan ini mengingatkanku akan dirinya yang entah ada dimana. Ini bulan ketiga semenjak kejadian itu. Aku belum mendapat kabar sama sekali. Aahh sudahlah. Hidup terus berlanjut jangan menyesali yang telah lalu.

Karena pada hakikatnya penyesalan itu selalu datang terakhir, namun tertanam abadi di dalam hati.

Penyesalan bukan untuk diratapi, bukan untuk diperbaiki, namun penyesalan untuk dijadikan pelajaran.

Penyesalan tidak bisa kita perbaiki, yang bisa kita lakukan adalah berhati-hati, melakukan yang terbaik, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama yang berakibat penyesalan tak berujung.

Ya, aku harus bangkit.

Perlahan aku berjalan keluar rumah dan tenggelam dalam dinginnya guyuran hujan. Ku langkahkan kakiku ke taman belakang, duduk dalam kursi kayu tua.

Rasa sesak yang selama ini tersimpan rapat di hati, akhirnya tumpah juga. Luruh bersama beningnya tetesan hujan. Aku menangis. Ya untuk pertama kalinya aku menangis. Menangisi orang yang aku bahkan tak tahu dia ada dimana. Aku menangis hebat kala ku ingat dia pernah berkata bahwa dia ingin bermain hujan bersama ku dan memeluk ku. Aku menangis karena aku tahu, itu tak kan pernah terwujud.

Tangis ku bahkan belum berhenti ketika ku rasanan seseorang mendekat. Tapi aku tak mempedulikannya karena aku ingin menikmati hujan ini bersamanya, walau dia hanya ada di dalam anganku.

Aku masih tidak mempedulikan manusia di belakang ku hingga dia berkata. "hai cantik, hujan akan terasa lebih indah bila dinikmati dengan senyum dan tawa, bukan dengan air mata" (anggap saja bahasa portugis)

Seketika tubuhku menegang mendengar suaranya. Suara itu. Bahasa itu. Itu bahasa portugis, kan? Siapa yang bisa bahasa portugis di sini? Tidak ada.

Aku berbalik menghadap yang tadi ada di belakang ku. Tangis ku langsung berderai hebat. Apa aku begitu merindukannya sampai aku berhalusinasi dia ada di sini?

Ku lihat dia berjalan ke arahku. Menangkup kedua pipi ku dengan kedua telapak tangannya. Menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Kemudian dia menarikku ke dalam dekapan hangatnya.

Apakah aku bermimpi? Ya Tuhan, bila memang aku sedang bermimpi, biarkan aku bermimpi selamanya. Siapapun, tolong jangan bangunkan aku tidur ku.

Namun bila ini nyata, jangan pernah bawa dia pergi dari sisiku, ya Tuhan. Karena aku hanya ingin bahagia bersamanya.

Bersama Joe Richard.

Minggu, 22 Maret 2015

Warna

Ketika hari-hari mulai terasa berwarna karena adanya dirimu dalam setiap langkahku. Namun kau juga secara tiba-tiba menghilang dari warna-warni kehidupan ku.

Semua menjadi seperti sedia kala. Bahkan lebih buruk dari sedia kala. Kala dulu, sebelum kau hadir hidupku hanya ada hitam dan putih, kini rasanya tidak sama lagi. Tidak ada hitam, tidak pula putih.

Hampa...

Entah warna apa yang ada di kehidupan ku sekarang. Tak berwarna.

Bisakah kau datang lagi dan memberikan warna baru setelah kau tinggalkan?

Bisakah warna itu terganti dengan yang lain?

Atau kau akan selamanya menghilang?

Bisakah kehampaan ini juga menghilang seiring menghilangnya dirimu dari kehidupan ku.

Aku bahkan meragukan hal itu.

Sabtu, 21 Maret 2015

Tentang kamu

Pada suatu hari, tentang kamu.

Banyak perbedaan di antara kita.

Kau dengan segala budayamu dan aku dengan segala budayaku.

Haruskah kita menggantungkan sebuah harapan?

Yang kita tahu hanya harapan semu.

Harapan dengan sepersekian kemungkinan.

Yang kita tahu kemungkinan yang sangat, sangat dan sangat kecil.

Kau,

Dengan segala pesonamu menjeratku.

Entah sampai kapan

Aku terbebas dari jerat yang tak kau sadari.

Kamis, 12 Maret 2015

Moonlight 3

Part 3

Orang itu… mataku membelalak tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Dengan apa yang sekarang ada di depanku, dihadapan kedua mataku.

“Kau… penunggu dapur itu, kan?” ish… Aira bodoh, pertanyaan macam apa itu?

“Sebegitu terkesankah sampai sebegitunya mengingat aku?” dia terkekeh menjawab pertanyaan spontanku. Entah bagian mana yang menurutnya lucu. Aah.. aku tahu, tentu saja itu lucu baginya, tidak masuk akal. Memang itu pertanyaan bodoh. Menyebalkan. Tanpa sadar ku kerucutkan bibirku tanda aku memang sebal. Percaya diri sekali manusia satu ini!

“Percaya diri sekali.”

“Harus. Memang kenyataannya begitu.” Ternyata tanpa sadar ku lisankan apa yang ada dipikiranku. Tapi lihatlah, kalian tahu sendiri kan dia sombong sekali.

“Kenapa belum tidur?” tanyanya ketika tiba-tiba dia duduk di bangku yang sama denganku.

Tanpa sadar –refleks- ku pegang dada kiriku yang semakin berdebar tak terkendali, “belum mengantuk,” jawaban sempurna, aku tidak berbohong setidaknya.

“Oh maaf. Ini jaketmu” sambungku setelah beberapa saat terdiam sambil melepas jaket yang dia sampirkan dipundakku tadi. Namun dia bergerak lebih cepat untuk menahan gerakan tanganku melepas jaket, “jangan dilepas. Udara dingin sekali, nanti kamu bisa sakit kalau kamu tidak memakai jaket. Tadi kulihat kau tidak memakai jaket, jadi maaf bila ku pakaikan jaketku, setidaknya sedikit menghangatkanmu.” Jelasnya panjang lebar. Menatapku dan tersenyum.

Lagi-lagi senyum itu. Senyum yang selalu menggetarkan hatiku.

“Tapi kamu membutuhkan jaket ini, kamu juga tidak memakai jaket kan?”

“Hei, aku laki-laki, aku lebih kuat dari wanita”

“Ku kira laki-laki juga bisa sakit.”

“Tak usah protes, dipakai saja jaketnya.” Katanya sembari merapatkan kembali jaket di tubuhku. Aku bengong melihatnya dari jarak sedemikian dekat. Dia sungguh tampan. Aku segera menundukkan kepala begitu menyadari sedari tadi aku menatapnya lekat.

Kekakuanpun terjadi diantara kami, tidak ada yang berinisiatif membuka percakapan guna memecah kekakuan ini. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku sibuk memandang sepasang kakiku yang lebih menarik untuk dipandang dari pada dia sambil sesekali melirik kearah kananku dimana seorang malaikat sedang duduk dengan senyum terkembang di kedua sudut bibirnya. Tampan.

“Ehm…” dia berdehem sejenak, “Aira, kan? Mahasiswa sastra tahun terakhir.”

Entah itu pertanyaan atau pernyataan aku tidak tahu. Yang jelas itu sukses membuatku melongo. Bagaimana dia bisa tahu tentang aku sedangkan aku baru tahu dia tadi pagi.

“Sastra inggris tepatnya.” Lagi-lagi dia tertawa kecil  mendengar jawabanku. Kenapa manusia satu ini begitu menyebalkan? Ataukah memang ada yang aneh pada diriku?

“Ada yang lucu?”

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Terus kenapa tertawa?”

“Aira sang bidadari. Suka menyendiri dan tenggelam dalam dunia kata. Itulah mengapa kau ada disini saat ini. Menyelam dalam kedalaman dunia katamu.” Lagi-lagi aku hanya terbengong.

“Sok puitis.” Entah kenapa justru pernyataan seperti itu yang meluncur dari bibirku. “maksudku…” buru-buru ku tambahkan kalimatku, “aku baru melihatmu dua kali. Bagaimana…”

“Kalau begitu kita perlu kenalan lebih dulu sepertinya. Hai, aku Ariel.” Ujarnya sembari mengulurkan tangan.

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang aneh menurutku. Kami satu rombongan, satu tim kerja, seharusnya dia sudah tahu namaku, kan? Walaupun aku sendiri juga tidak tahu siapa namanya. Tapi jangan salahkan aku, karena kemarin waktu kami semua saling berkenalan dia tidak ada. Bahkan waktu masih mendiskusikan segala sesuatu persiapannya sampai hari dimana acara dimulaipun dia tidak menampakkan batang hidungnya. Wajar, kan kalau aku tidak tahu siapa dia. Aku bahkan baru melihatnya tadi siang.

“Hei, jangan tertawa, jawab saja. Siapa namamu?” ujarnya dengan tangan masih terulur.

Ku balas jabatan tangannya sembari berkata, “Aira.”

“Aku tahu.” Sahutnya cepat. Ish… menyebalkan, bukan? Mana ada kenalan jawabannya seperti itu. Seharusnya kan dijawab dengan senang berkenalan denganmu atau apa gitu, bukan jawaban seperti itu.

“Aril, kamu-“

“Ariel, bukan Aril. A-Ri-El” koreksinya ketika aku salah menyebut namanya.

“Oh, maaf.” Aku jadi terdiam. Entah pertanyaan apa yang ingin ku tanyakan menguap begitu saja hingga suasana kembali hening.

Suasana hening ini sangat bertolak belakang dengan suasana hatiku yang sedari tadi bersorak-sorai. Jantungku berdegup di luar batas normal. Aku khawatir dia bisa mendengarnya. Akan sangat memalukan, bukan?

“Ai, rasanya sudah terlalu larut. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik kamu balik, gih. Istirahat, tidur.” Ujarnya sembari menatapku lekat.

“Ai?” ku kerutkan dahiku tanda aku sedang bingung.

“Iya. Ai. Ada yang salah?”

“Maksudmu Ai?” tanyaku bingung.

“Namamu Aira, kan?” aku langsung mengangguk sebagai jawaban. “Jadi tidak salah, kan aku memanggilmu Ai?” lanjutnya

“Oh… tidak, sih hanya saja belum terbiasa dipanggil Ai. Biasanya juga dipanggil Aira.”

“Kalau begitu biasakan dari sekarang. Ya sudah kamu cepat masuk.” Perintahnya yang terkesan memaksa.

“Iya. Jaketmu.” Aku sudah akan melepas jaket ketika dia memegang bahuku.

“Jangan dilepas. Kamu pakai saja, aku juga akan masuk setelah kamu.”

“Ai…” aku menoleh ketika aku dipanggil.

“Selamat malam.” Aku terdiam sesaat ketika melihat dia tengah tersenyum manis. Aku suka senyumnya. Kubalas senyum itu sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.

*

Ku buka pintu rumah yang memang tidak pernah di kunci. Begitu kaki kananku menginjak ubin untuk yang pertama, ku lihat sepasang mata menatapku dingin, sangat dingin seakan bisa membekukanku hingga pusat saraf dalam sekali tatap. Ada apa ini? Selama sekian hari disini, belum sekalipun aku bertegur sapa dengannya. Tapi kenapa sekali tatap dia seoalah mengibarkan bendera perang? Apa ada yang salah? Tapi apa?

“Emm… Rida, kan? Belum tidur?” tentu saja dia belum tidur, aku bahkan hanya berbasa-basi. Kalau sudah tidur, dia tidak akan berdiri dihadapanku, kan? Tentunya dia sudah bergelung dengan selimutnya kalau dia sudah tidur.

“Matamu buta, ya?” ujarnya dengan nada sinis. Oh Tuhan… ada apa ini? Aku kaget itu sudah pasti dan jangan ditanya lagi karena selama dua puluh tahun hidupku, belum ada yang berkata sekasar itu padaku. Ini yang pertama.

“Oh, begitu, ya? Maaf kalau begitu. Saya permisi.” Lebih baik aku pergi aku sungguh malas dengan orang seperti dia. Wanita cantik tapi bermulut harimau.

“Darimana?” pertanyaan itu bahkan diucapkan dengan nada yang sangat dingin. Aku malas menanggapi. Aku diam saja dan segera berlalu ketika teriakan itu menggema, “Eh, lo budeg, ya? Gue Tanya lo darimana?”

“Ngomong sama aku?” sambil kutunjuk diriku dengan telunjuk kananku.

“Selain buta, budeg, ternyata lo blo’on juga ya?”

“Orang buta tidak tahu dia darimana.” Maaf nona, kau sungguh membuatku malas.

Dengan cepat ku langkahkan kaki menuju kamar dan menutup pintunya rapat. “Aneh sekali, baru juga ketemu udah ngibarin bendera perang. Apa sih maunya itu anak?” aku mengomel sendiri begitu pintu kamar tertutup. Dengan suara lirih tentu saja, karena aku tidak mau membangunkan mereka yang sudah terlelap.

“Baru masuk udah ngedumel, ada apa, sih?” kulihat Nana menatapku dengan dahi berkerut. Oh ternyata dia belum tidur juga.

“Rida.”

“Kenapa dengan Rida?”

“Baru kali ini ketemu, udah ngajak perang, males tau gak? Kaya gak ada kerjaan lain aja.” Nana semakin menatapku lekat, “Sebenarnya kenapa, sih dengan dia?” lanjutku ketika Nana semakin tak berkedip, lebih tepatnya melotot.

“Wait! Tunggu.” Nana langsung bangkit dari posisi rebahannya, “Itu jaket siapa? Kaya jaket cowok, deh?”

“Ini… Ariel. Jaketnya Ariel.”

“Yang bener? Ariel ngasih jaketnya ke kamu?” katanya dengan nada histeris, lebay walaupun sebenarnya hatiku juga bertiak lebay.

“Gak dikasihkan, Cuma dipinjamkan karena tadi aku keluar tidak memakai jaket.” Ku atur suaraku senormal mungkin. Karena sejak tadi sebenarnya aku sangat ingin tersenyum ketika mengingat manusia satu itu.

“Aira… gila… benar-benar gila.” Apaan ini? Aku waras. Aku masih normal.

“Aku? Kamu yang gila.” Protesku tak terima karena dikatakan gila, walau sebenarnya aku sudah mulai gila. Gila karena bayangnya yang terus berkelebat masuk ke dalam benakku. “Udah ya? Gilanya besok lagi. Aku mau tidur dulu. Good night sweetie.”

“Eh Ara… kenapa ya Ariel pinjami kamu jaket? Padahal dia tidak pernah peduli dengan makhluk yang bernama wanita. Apa karena kau kenal dia sehingga dia menjadi baik padamu? Tapi kurasa tidak, deh itu bukan alasan sama sekali. Kau kan makhluk dalam goa, sangat aneh bila kau tiba-tiba dekat dengan seseorang. Apalagi sampai dipinjami jaket segala. Kenapa ya?”

“Hiiihhh… Nana please deh! Ngobrolnya besok saja ya? Aku ngantuk.” Kataku mendelik ke arahnya, “sekali lagi kau cerewet, ku bunuh kau!”

“Ihhh… sadis banget Aira.”

“Udah makanya diam.” Sahutku ketus.

“Orang kaya kamu gak pantes ngomong ketus. Lucu tau jadinya.”

“Nana, please… izinkan aku istirahat mala mini.” Ujarku memelas.

“Ya udah deh, selamat tidur cinta. I love you.”

Senin, 02 Maret 2015

Hanya Dia


Jika kata orang menunggu itu menyebalkan, maka bagiku menunggu itu adalah mendebarkan.

Debaran tak bernama yang selalu singgah disini, di jantungku. Debaran dalam kebisuan disini, di tempat ini, di taman utara perpustakaan kampusku.

Debaran yang selalu ada kala ku lihat bayangnya. Hanya bayangnya dan selalu bayangnya. Debaran yang selalu datang kala ada dia. Hanya dia. Bukan yang lain. Bukan kamu, bukan juga mereka.

Di taman ini, ku ukir kisahku. Kisah ketika aku selalu setia menunggunya di jam istirahat. Jam yang bisa dipastikan dia akan keluar dari kantor Badan Eksekutif Mahasiswa dan masuk menuju perpustakaan. Dan tempat aku menikmati senja, dimana aku akan melihatnya berjalan pulang.

Disini, aku selalu berharap bahwa dia sadar akan keberadaanku. Dia akan melihatku. Dia akan datang padaku. Atau setidaknya dia akan menyapaku. Itu cukup bagiku.

Harapan yang hanya sekedar harapan, karena aku tidak berani berharap lebih. Aku tidak berani berharap dia akan datang padaku. Lebih baik aku menikmati indahnya dari jauh saja daripada aku akan sakit hati nantinya, aku belum siap untuk itu.

*
Entah kesialan atau apa, hari ini aku telat datang sehingga bangku taman itu sudah diduduki oleh manusia lain. Aku hanya melihat punggungnya yang telah menghilang ditelan pintu perpustakaan.

Semua ini gara-gara telpon sialan itu. Seandainya dia, manusia tidak jelas itu, tidak telpon maka aku bisa melihat dia lagi. Namun sebuah ide cemerlang muncul di kepala cantikku. Aku masuk ke perpustakaan. Aku pasti tahu kemana arahnya pergi karena dia satu fakultas denganku.

Bergegas aku masuk ke perpustakaan, setelah menyerahkan kartu anggota perpustakaan kepada petugas, meletakkan tas di loker, aku bergegas menuju lantai dua dimana perpustakaan fakultas pendidikan berada. Benar, kan? dia ada disana. Di antara rak buku, sedang memilih buku ku rasa.

Hari ini dia tampak keren sekali dengan kemeja hijau kotak-kotak lengan pendek. Juga kaca mata yang selalu bertengger manis di hidung mungilnya. Dia memang manis dan keren. Dia tidak kekar, tidak sixpack, tidak tinggi untuk ukuran laki-laki, tidak juga bermata tajam, dia tidak sesempurna itu. Bisa dikatakan dia mungil untuk ukuran laki-laki tapi dia tampan dengan caranya sendiri.

Aku berjalan mendekat ke arahnya ikut sibuk memilih buku di rak sebelahnya sambil sesekali meliriknya. Yang benar saja aku memilih buku? Jawabannya tentu saja tidak. Aku tidak satu jurusan dengannya  jadi bisa dipastikan bahwa buku-buku yang kubutuhkan ada di ruang sebelah. Itupun kalau aku membutuhkan bukunya. Begitu dia konsentrasi dengan buku di tangannya aku mengeluarkan ponselku dan mulai memotretnya. Walau tidak jelas wajahnya tapi aku cukup puas dengan hasilnya karena memang aku mengambil gambar dari arah samping.

*

Drrrttt ddrrrtttt drrrtttt

Getar handphone-ku membawaku kembali dari pulau mimpiku. Siapa juga yang kurang kerjaan dengan menelfon tengah malam begini.

"Ya, halo. Ada apa?" sapaku langsung setelah aku memencet tombol jawab.

"Hai sweetheart, Sudah tidur, ya?" jawab suara di seberang sana. Suara seorang laki-laki tapi cukup kalem dan merdu. Tentu saja aku sudah tidur. Lagi pula ini sudah tengah malam, bukan?

"Sebelum kau membangunkanku." dia hanya terkekeh tidak menjawab pernyataanku. "Maaf, ini siapa, ya?" tanyaku begitu aku sadar bahwa aku merasa asing dengan suara ini. Bahkan aku merasa belum pernah mendengar suara ini.

"Kau lupa."

"Ini pertanyaan atau pernyataan?"

"Padahal baru tadi siang aku menelfonmu. Aku kecewa, lho."

"Kau manusia aneh. Aku bahkan tidak mengenalmu. Bagaimana kau bisa kecewa?"

"Kau tahu aku."

Tut tut tut. Begitu saja sambungan telfon diputus. Manusia satu ini benar-benar sakit. Mengganggu tidurku hanya untuk hal-hal tak jelas.

Drrrttt drrrttt

Lagi-lagi HP ku bergetar.

'Sweetheart, sweet dream and dream about me, Khalila.'

Aku langsung mematikan handphone-ku begitu selesai membaca pesan yang tidak jelas tuannya. Kemudian aku kembali berlayar ke pulau kapuk, nyenyaknya…

*

Kebiasaan baruku setelah kejadian di perpustakaan kemarin bertambah. Yaitu aku suka, sangat suka mengabadikan apapun tentang dia dalam memori handphone-ku. Aku selalu memotret apapun yang dia kerjakan. Ketika dia mengobrol dengan teman-temannya di depan gedung UKM, ketika dia duduk-duduk di depan kantor BEM, ketika dia berjalan, tersenyum, tertawa, dan apapun yang bisa tertangkap kamera aku abadikan.

Masih jam kelima. Aku kembali ke tempat penantian terindahku. Tidak ada rencana menunggu karena aku memang akan mengerjakan tugas kelompok di taman perpustakaan, tempat yang cukup teduh dan nyaman untuk berdiskusi.

Ternyata aku masih terlalu pagi, atau aku terlalu rajin? Atau mungkin hanya alibi? Entahlah, karena belum ada satupun anggota kelompokku yang datang. Mengerjakan tugas sendiri, dalam hening, sungguh menyenangkan.

Namun konsentrasiku terpecah ketika suara lembut yang sepertinya cukup asing terdengar di rongga pendengarku.

"Indah" sapanya entah pada siapa.

Aku mendongakkan kepalaku. Menatap tajam tepat pada mata teduhnya. Lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari siapa yang disapanya. Nihil. Karena disini memang hanya ada aku dan dia.

Entah kenapa dadaku menjadi sesak. Sepertinya oksigen lenyap dari sekitarku. Aku tidak bisa bernafas, aku butuh pasokan oksigen sekarang. Sungguh aku sangat membutuhkannya.

Penantian, harapan dan doa-doaku untuk dia datang walau hanya sekedar menyapa akhirnya terjawab. Tapi tidak seperti ini yang ku harapkan. Dia datang padaku, menyapa dan mengenaliku sebagai gadis lain, Indah, bukan aku yang bernama Khalila. Sedangkan yang kuharapkan adalah dia datang padaku hanya karena aku Khalila, bukan karena gadis lain bernama Indah.

Ternyata sungguh sakit ketika seseorang yang kamu cintai mengenalimu sebagai orang lain bukan sebagai dirimu.

"Maaf, mas mencari siapa, ya?" tanyaku padanya yang lebih pada caraku untuk menetralkan hatiku yang remuk.

"Kamu. Indah." jawabnya. Dan sekali lagi dia memanggil nama orang yang salah. Bukan. Bukan orang yang salah tapi salah mengenali orang.

"Boleh aku bergabung?" lanjutnya lagi. Namun belum sempat aku menjawab dia sudah duduk di bangku sebelahku. Dan hey, lalu apa maksud permintaan izinnya tadi jika aku belum mengizinkan tapi dia sudah duduk manis bergabung denganku.

"Maaf, mas salah orang, ya? Saya bukan Indah."

"Hai sweetheart."

Sweetheart? Aku merasa tidak asing dengan sapaan itu. Tapi kapan ada orang menyapaku dengan sapaan seperti itu? Lalu dimana aku disapa seperti itu? Entahlah.

"Maaf, mas. Anda salah mengenali orang. Nama saya bukan Indah dan bukan juga Sweetheart." aku benar-benar merasa marah, sakit hati dan jengkel dalam waktu bersamaan. Aku baru mengemasi buku-bukuku dan akan beranjak ketika dia berkata, "bukankah Khalila artinya adalah sweetheart?"

Lagi-lagi aku terdiam. Dia tahu namaku. Sejak kapan?

"Seorang gadis mungil yang selalu menanti kehadiranku disini dan selalu di tempat ini. Khalila yang cantik. Khalila yang indah, sejuk dipandang." dia selalu punya cara untuk menghentikanku.

"Maaf jika selama ini aku selalu mengabaikanmu. Tidak menganggap hadirmu. Bahkan menganggapmu tidak pernah ada. Aku baru menyadarinya sejak aku menemukan ini disini."

Dia mengeluarkan lembaran kertas putih yang berisikan foto. Aku menutup mulutku tidak percaya. Foto itu adalah fotonya di perpustakaan yang aku print entah kapan harinya. Aku lupa.

Foto dengan tulisan "My Harry Potter" hasil editanku.

"Hai sweetheart, Lil indah, bolehkah kita kenalan?" kali ini mengangguk kecil sebagai jawabanku.

Dia mengulurkan tangannya sembari berkata,"Namaku Ulum."

"Lila. Khalila." balasku mengenalkan diriku padanya.

"Aku tahu." dia menjawab dan memberikan senyum manisnya padaku. Kemudian dia memberikanku sebuah amplop cokelat.

Ku buka amplop tersebut dan sekali lagi aku ternganga melihat isinya yang berupa fotoku sedang duduk di taman ini dengan tulisan 'She's My Lil Indah' di dalamnya.

Ternyata penantianku selama ini berbuah manis. Doaku terijabah. Harapanku tercapai. Dan mimpiku menjadi nyata. Namun, apakah ini akan selalu semanis dan selurus harapanku?

Sebuah tanda tanya.