Part 2
Terlintas dalam pikiranku beberapa hari
yang lalu. Adalah hari kedua aku di “litecamp” ini. Karena cacing-cacing perut
belum mendapat jatah dari pagi, sekarang mereka memberontak dan melilit perutku
dengan liarnya. Maka aku bergegas ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa
menenangkan cacing-cacing perut ini. Ketika aku sampai di ambang pintu yang
menghubungkan dapur dengan ruang tengah, hampir saja aku melonjak kaget. Disana
aku melihat sesosok manusia yang err… tampan. Jika malaikat itu laki-laki dan
tampan, maka ku katakan padamu aku melihat malaikat di dapur litecamp kami.
Seketika aku membatu. Jantungku berulah
di luar batas wajar. Bingung apa yang harus aku lakukan, hanya diam di tempat
dan tidak tahu harus bagaimana karena aku juga tidak mengenalnya. Hingga sebuah
suara mengembalikanku ke alam nyata.
“Mau makan mbak?” suaranya begitu merdu.
Suara dari malaikat penunggu dapur yang sekarang berdiri dihadapanku.
“Eh… i… iya.” Tergagap ku jawab
pertanyaannya.
“Kok masih mematung disitu? Kemarilah,
makanannya tidak akan bisa terbang kesitu, atau mungkin kamu punya mantra
panggil seperti Harry Potter?” katanya sembari tersenyum. Malaikat di depanku
ini sungguh manis dengan senyum mautnya. “Hei…” lanjutnya ketika aku masih tak
bergeming.
“Oh… i…iya… apa?” kenapa aku mendadak
gagu begini?
“Kamu kenapa?” ku rasakan wajahku
memanas, aku malu sungguh. “Wajahmu memerah, kamu sakit?” oh bumi, telan aku
sekarang. Sungguh memalukan.
“Oh, tidak tidak tidak, aku tidak
apa-apa. Rasanya aku harus pergi sekarang. Permisi.” Buru-buru aku balik kanan
dan pergi meninggalkan dapur. Seketika aku lupa dengan tujuan awalku ke dapur
tadi apa.
“Hei… kenapa pergi? Tidak jadi makankah?
Aneh…” aku terus berlalu meninggalkannya tanpa mempedulikan dia sedang berbicara
padaku dari kejauhan. Masih ku dengar samar-samar suaranya sebelum aku benar-benar
menghilang dari pandangannya.
*
Ku hembuskan nafas lelah ketika aku
sampai di halaman rumah. Jantungku masih berdetak sangat cepat di luar batas
normal. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa aku kena serangan jantung?
Ya Tuhan… bagaimana ini? Masa habis
berlari kecil saja jantungku sudah berdetak hebat? Rasanya aku perlu
memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung setelah pulang dari acara ini.
“Ra, kenapa disini? Kamu tidak jadi
makan?” Tanya Nana ketika menghampiriku yang sedang duduk di kursi beton taman
camp kami.
“Tidak.” Jawabku singkat.
“Kenapa?” selalu Nana bertanya penuh
selidik. Aku sangat tidak suka itu.
“Males.” Ya aku malas dengan jantungku
yang sudah berdisco ria saat di dapur tadi. Akan lebih memalukan bila malaikat
penunggu dapur tadi mendengarnya. Lebih baik aku keluar kan? Ya kan?
Ngomong-ngomong soal malaikat penunggu
dapur. Siapa dia? Kenapa ada malaikat di camp ini? Apa malaikat juga mengerjakan
tugas seperti mahasiswa mengerjakan tugas kuliah? Aku yakin dia mengerjakan
tugas karena tadi aku melihat setumpuk buku dan laptop di meja dapur. Yang
benar saja mengerjakan tugas di meja dapur? Ada-ada saja.
Sudah berapa lama aku duduk disini?
Kenapa jantungku masih belum normal juga? Rasanya aku harus benar-benar ke
dokter. Tidak boleh di tunda-tunda. Secepatnya, harus. Aku tidak mau mati muda.
Oh ibu… tolonglah anakmu ini.
*
Jam 10 malam, kegiatan baru selesai.
Peserta dan panitia seharusnya sudah berlayar ke pulau mimpi. Gagal berlayar,
disinilah aku sekarang, terdampar di gazebo taman depan rumah.
Semilir angin membelai lembut tubuh
-tanpa jaket- ku. Rasanya dingin juga ternyata. Sangat berbeda dengan siang
hari. Jika di siang hari maka di sini akan menjadi sangat sejuk.
Di bawah lampu malam, suasananya-pun
juga sungguh berbeda dengan siang hari. Siang hari, segalanya tampak lebih
jelas. Rumput tempat kaki berpijak yang terlihat hijau segar. Di sebelah kanan
terdapat pohon besar yang membuat udara terasa semakin sejuk. Dua kursi beton
–nampak masih kokoh- tertata rapi di bawahnya. Bagian sebelah kirinya terdapat
gazebo –tempatku sekarang berada- yang terbuat dari kayu dengan cat serba
coklat. Terdapat pagar kayu bercat putih setinggi setengah meter yang
memisahkan kursi beton dengan gazebo, serta bunga-bunga yang terawat rapi
disekitarnya. Ada jembatan kayu di sebelah kiri -sebagai sarana menuju gazebo
dan dua kursi beton tentu saja- yang mempermanis keindahan taman kecil ini.
Suasana malam ini tampak sunyi, sangat
sunyi. Namun aku sangat menyukai kesunyian. Hingga dia kembali memenuhi
pikiranku, datang tanpa ku minta dan tak mau pergi saat ku paksa pergi. Rasanya
aku benar-benar ingin berteriak… wahai penunggu dapur, pergilah dari pikiranku.
Sekarang… pergilah!
“Sedang apa?” tanpa menolehpun aku tahu
siapa dia. Ya, dia adalah Nana –sahabatku- kau tahu.
“Kau seperti hantu, datang dan pergi
seenaknya.” Kutatap dia dengan mata melotot sebelum melanjutkan, “kau juga
menyebalkan. Sangat menyebalkan. Aku benci padamu.”
“Hei, aku bukan hantu dan aku juga
mencintaimu, terimakasih. Dan simpan tandukmu itu untuk yang lain asal bukan
aku.” Itulah Nana, ungkapan kebencianku adalah ungkapan cinta yang mendalam
baginya. Karena dia tahu bahwa aku tidak benar-benar membencinya. Aku hanya
mengungkapkan kebencianku ketika dia bertingkah menyebalkan padaku. Seperti
saat ini.
“Kau membuatku merasa seperti pasangan
homo. Tidak terimakasih.” Sahutku dengan melayangkan cubitan pada lengannya
yang disambut dengan tawa khas Nana, “apa yang kau lakukan disini?” kutanyakan
pertanyaan yang sama karena seingatku dia belum menjawab pertanyaanku tadi.
Atau aku yang lupa tadi sudah bertanya apa belum?
“Hei, seharusnya itu pertanyaanku. Apa
yang kau lakukan disini? Malam-malam di luar sendirian sedangkan yang lain
sudah berlayar menuju pulau mimpi masing-masing.”
“Aku tidak bisa tidur. Aku ingin mencari
suasana sunyi, sepi, tenang. Aku suka.” Inilah kebiasaanku yang menyukai
suasana tenang. Aku tidak suka suasana ramai. Itu sangat menggangguku.
“Tapi tidak perlu disini, kan? Sudah
malam dan dingin. Kamu juga tidak memakai jaket. Kalau kamu sakit bagaimana?
Disini masih beberapa hari lagi. Ayo masuk lagi, disana lebih hangat. Kamu
tidak akan sakit nanti.”
“Kau sudah seperti ibuku saja.” Aku
terkekeh geli setiap mendengar Nana mengomel panjang lebar karena hal-hal yang
ku lakukan. Seperti tadi contohnya padahal dia sendiri juga tidak memakai jaket
walau tahu udara cukup dingin. “sebentar lagi aku masuk. Kau duluan saja.”
Setelah perdebatan kecil yang selalu
kami lakukan, akhirnya aku menang. Ini pertama kalinya Nana menuruti mauku.
Biasannya dia tidak akan menyerah bila aku belum menuruti apa maunya.
“Na…” panggilku ketika Nana mulai
melangkah meninggalkanku.
“Ya…” dia menatapku lekat saat
sepersekian detik aku hanya mematung, “ada apa?” lanjutnya.
Aku ragu harus bertanya atau tidak. Dia
kelihatan mulai cemas. Ya Tuhan, Nana benar-benar seperti kekasih hatiku saja.
“Laki-laki itu… kau tahu siapa laki-laki yang biasanya di dapur?” Tanyaku
ragu-ragu.
“Laki-laki? Di dapur? Yang mana yang kau
maksud? Disini banyak laki-laki kau tahu.”
“Lupakan, tidak penting. Sudah sana kau
masuklah dulu” tanpa banyak kata Nana langsung melesat meninggalkanku. Ku lihat
dia mendekapkan tangan ke depan dada –kedinginan mungkin. Karena udara memang
benar-benar dingin.
Disini aku masih merenung, bersama
bayangnya yang tak jua keluar dari kepalaku. Terus menerobos gerbang hati dan
pikiranku yang tak pernah terbuka sebelumnya. Tak pernah bisa dilewati dan
ditembus oleh siapapun. Tidak –sebelum aku bertemu laki-laki itu. Pertahananku
hancur seketika ketika mata ini memandangnya untuk pertama kali. Dia. Hanya dia
yang bisa melakukannya. Hanya dia yang bisa menemukan dan membuka gerbang
hatiku. Hanya dia, laki-laki itu.
Hhufftt… ku hebuskan nafas lelah. Lelah
dengan hati dan pikiranku yang tidak bisa bekerjasama. Aku masih bergelung
dengan duniaku ketika kurasakan sesuatu –seperti kain- menyelimuti pundakku.
Oh, jaket. Ternyata Nana kembali lagi hanya untuk memberiku jaket. Perhatian
sekali. Aku semakin menyayanginya.
“Bulan purnama. Indah, ya?” suara itu?
Itu bukan suara Nana. Seketika jantungku berdetak di luar batas normal. Ku
angkat kepalaku dan menoleh pada orang yang ada di belakangku untuk melihat
siapa pemilik suara itu. Nafasku tercekat. Jantungku terasa berhenti berdetak.
Orang itu…
*