Selasa, 26 Januari 2016
Surat kecil untuknya
Kamis, 07 Januari 2016
Cinta dalam duka
Hanyalah sebuah kisah singkat tentang kita. Tentang aku dan kamu.
Dearest mister key. Sebuah pernyataan tak beralasan tengah mengalun amburadul di rongga pendengarmu. Sebuah pernyataan tentang hatiku. Tentang sisi tergelapku yang tak pernah kau tahu.
Maka, kini, dengarkan aku baik-baik. Dengar dan jangan kau potong rentetan kalimat acakku.
Aku mencintaimu. Masih mencintaimu. Tetap mencintaimu dan selalu mencintaimu. Kau tahu itu?
Entah dasar apa aku bisa sedalam itu menyimpan rasa padamu, dirimu. Kadang aku berbisik lirih pada jiwaku, "mengapa aku tetap mencintaimu dalam pedihku bersamamu. Mengapa aku bertahan pada cintaku sementara aku luruh dalam nestapa cintamu? Mengapa aku selalu mencintaimu sedangkan selalu luka sebagai balasan cintaku? Luka terperih tak terkira atas cintaku yang terus merekah padamu. Pedih tak terbatas atas cinta terdalamku padamu. Kadang aku ingin bertanya, tak pantaskah diri ini mendapat cinta darimu, wahai the key keeper? Jika pantas, kenapa hanya sepersekian detik saja aku merasakannya? Dan jika tidak, pantaslah perih tak terkira ku dapat.
"Aku jatuh sedalam-dalamnya. Aku terperosok dalam jeratmu. Aku terseok tak menemukan jalan pulang.
"Aku sadar ketika kau mengantarku pulang. Namun, aku yang kau sebut sebagai wanita bebal hanya ingin pulang bersamamu. Kau tak pernah mau pulang bersamaku, kaupun tak mau mengajakku pulang bersamamu. Aku tahu kenapa kau tidak pernah mengizinkanku pulang bersamamu. Karena ultimatum tak kasat mata tertera jelas di depan pintumu. Terlarang untukku memasukinya. Namun aku tidak mau tahu. Mister key, aku hanya ingin kamu.
"Kenapa? Kenapa dalam setiap tetes air mata yang kau ciptakan selalu kamu yang ku tuju? Kenapa dalam setiap goresan luka yang kau hujamkan hanya kamu tempatku mengadu? Pantaskah aku menyebut ini cinta ketika hanya ada air mata, luka, pedih, perih, duka, nestapa?
"Mister key, aku ingin sebentar saja mencintaimu tanpa harus ada air mata. Aku ingin sebentar saja bahagia bersamamu tanpa harus ada luka. Aku ingin sedetik saja tertawa bersamamu. Sedetik saja cukup, asalkan bersamamu."
Mister key, aku mencintaimu. Peluk aku dalam bahagiamu, walau hanya sedetik.
Rabu, 06 Januari 2016
Tentang kamu, ya! Kamu!
Kepadamu yang selalu tersakiti
Bersama secarik goresan tinta, ingin ku sampaikan ini padamu.
Maaf.
Aku ingin minta maaf kepadamu.
Maaf telah menyakitimu.
Maaf telah mengecewakanmu.
Maaf telah mendustaimu.
Dan sejuta maaf lagi untuk semua hal yang telah ku lakukan padamu.
Terima kasih.
Terima kasih untuk tetap bersabar padaku.
Terima kasih untuk tetap menyayangi aku.
Terima kasih untuk tetap menunggu kesiapanku.
Momo, aku bersedih.
Aku bersedih saat mendengarmu berkata, "aku akan tetap menunggumu dan akan tetap bersabar sampai kamu siap. Apa yang terjadi hari ini, mari kita lupakan saja. Aku bisa memahami keadaanmu, mungkin kamu masih terpaksa dan belum bisa ikhlas menerimaku kembali dalam hidupmu. Nanti, kalau kamu sudah benar-benar ikhlas, kita lanjutkan apa yang telah gagal hari ini. Dora, aku akan melakukan apapun agar kau bisa menerimaku kembali. Sekalipun aku harus berubah seperti bayangan indahmu. Apapun bayangan itu, aku tidak tahu. Tapi aku tahu ada bayangan tak kasat mata yang menghalangimu untuk melihatku. Jikapun aku harus kau sandingkan dengan bayangan tak bernama itu, aku rela. Asalkan itu bersama kamu."
Momo, aku menangis mendengarmu berkata demikian. Jika kau tahu, ini semua tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang kau sebut bayangan tak bernama.