Sabtu, 28 Februari 2015

moonlight-2


Part 2


Terlintas dalam pikiranku beberapa hari yang lalu. Adalah hari kedua aku di “litecamp” ini. Karena cacing-cacing perut belum mendapat jatah dari pagi, sekarang mereka memberontak dan melilit perutku dengan liarnya. Maka aku bergegas ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa menenangkan cacing-cacing perut ini. Ketika aku sampai di ambang pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah, hampir saja aku melonjak kaget. Disana aku melihat sesosok manusia yang err… tampan. Jika malaikat itu laki-laki dan tampan, maka ku katakan padamu aku melihat malaikat di dapur litecamp kami.

Seketika aku membatu. Jantungku berulah di luar batas wajar. Bingung apa yang harus aku lakukan, hanya diam di tempat dan tidak tahu harus bagaimana karena aku juga tidak mengenalnya. Hingga sebuah suara mengembalikanku ke alam nyata.

“Mau makan mbak?” suaranya begitu merdu. Suara dari malaikat penunggu dapur yang sekarang berdiri dihadapanku.

“Eh… i… iya.” Tergagap ku jawab pertanyaannya.

“Kok masih mematung disitu? Kemarilah, makanannya tidak akan bisa terbang kesitu, atau mungkin kamu punya mantra panggil seperti Harry Potter?” katanya sembari tersenyum. Malaikat di depanku ini sungguh manis dengan senyum mautnya. “Hei…” lanjutnya ketika aku masih tak bergeming.

“Oh… i…iya… apa?” kenapa aku mendadak gagu begini?

“Kamu kenapa?” ku rasakan wajahku memanas, aku malu sungguh. “Wajahmu memerah, kamu sakit?” oh bumi, telan aku sekarang. Sungguh memalukan.

“Oh, tidak tidak tidak, aku tidak apa-apa. Rasanya aku harus pergi sekarang. Permisi.” Buru-buru aku balik kanan dan pergi meninggalkan dapur. Seketika aku lupa dengan tujuan awalku ke dapur tadi apa.

“Hei… kenapa pergi? Tidak jadi makankah? Aneh…” aku terus berlalu meninggalkannya tanpa mempedulikan dia sedang berbicara padaku dari kejauhan. Masih ku dengar samar-samar suaranya sebelum aku benar-benar menghilang dari pandangannya.

*

Ku hembuskan nafas lelah ketika aku sampai di halaman rumah. Jantungku masih berdetak sangat cepat di luar batas normal. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa aku kena serangan jantung?

Ya Tuhan… bagaimana ini? Masa habis berlari kecil saja jantungku sudah berdetak hebat? Rasanya aku perlu memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung setelah pulang dari acara ini.

“Ra, kenapa disini? Kamu tidak jadi makan?” Tanya Nana ketika menghampiriku yang sedang duduk di kursi beton taman camp kami.

“Tidak.” Jawabku singkat.

“Kenapa?” selalu Nana bertanya penuh selidik. Aku sangat tidak suka itu.

“Males.” Ya aku malas dengan jantungku yang sudah berdisco ria saat di dapur tadi. Akan lebih memalukan bila malaikat penunggu dapur tadi mendengarnya. Lebih baik aku keluar kan? Ya kan?

Ngomong-ngomong soal malaikat penunggu dapur. Siapa dia? Kenapa ada malaikat di camp ini? Apa malaikat juga mengerjakan tugas seperti mahasiswa mengerjakan tugas kuliah? Aku yakin dia mengerjakan tugas karena tadi aku melihat setumpuk buku dan laptop di meja dapur. Yang benar saja mengerjakan tugas di meja dapur? Ada-ada saja.

Sudah berapa lama aku duduk disini? Kenapa jantungku masih belum normal juga? Rasanya aku harus benar-benar ke dokter. Tidak boleh di tunda-tunda. Secepatnya, harus. Aku tidak mau mati muda. Oh ibu… tolonglah anakmu ini.

*

Jam 10 malam, kegiatan baru selesai. Peserta dan panitia seharusnya sudah berlayar ke pulau mimpi. Gagal berlayar, disinilah aku sekarang, terdampar di gazebo taman depan rumah.

Semilir angin membelai lembut tubuh -tanpa jaket- ku. Rasanya dingin juga ternyata. Sangat berbeda dengan siang hari. Jika di siang hari maka di sini akan menjadi sangat sejuk.

Di bawah lampu malam, suasananya-pun juga sungguh berbeda dengan siang hari. Siang hari, segalanya tampak lebih jelas. Rumput tempat kaki berpijak yang terlihat hijau segar. Di sebelah kanan terdapat pohon besar yang membuat udara terasa semakin sejuk. Dua kursi beton –nampak masih kokoh- tertata rapi di bawahnya. Bagian sebelah kirinya terdapat gazebo –tempatku sekarang berada- yang terbuat dari kayu dengan cat serba coklat. Terdapat pagar kayu bercat putih setinggi setengah meter yang memisahkan kursi beton dengan gazebo, serta bunga-bunga yang terawat rapi disekitarnya. Ada jembatan kayu di sebelah kiri -sebagai sarana menuju gazebo dan dua kursi beton tentu saja- yang mempermanis keindahan taman kecil ini.

Suasana malam ini tampak sunyi, sangat sunyi. Namun aku sangat menyukai kesunyian. Hingga dia kembali memenuhi pikiranku, datang tanpa ku minta dan tak mau pergi saat ku paksa pergi. Rasanya aku benar-benar ingin berteriak… wahai penunggu dapur, pergilah dari pikiranku. Sekarang… pergilah!

“Sedang apa?” tanpa menolehpun aku tahu siapa dia. Ya, dia adalah Nana –sahabatku- kau tahu.

“Kau seperti hantu, datang dan pergi seenaknya.” Kutatap dia dengan mata melotot sebelum melanjutkan, “kau juga menyebalkan. Sangat menyebalkan. Aku benci padamu.”

“Hei, aku bukan hantu dan aku juga mencintaimu, terimakasih. Dan simpan tandukmu itu untuk yang lain asal bukan aku.” Itulah Nana, ungkapan kebencianku adalah ungkapan cinta yang mendalam baginya. Karena dia tahu bahwa aku tidak benar-benar membencinya. Aku hanya mengungkapkan kebencianku ketika dia bertingkah menyebalkan padaku. Seperti saat ini.

“Kau membuatku merasa seperti pasangan homo. Tidak terimakasih.” Sahutku dengan melayangkan cubitan pada lengannya yang disambut dengan tawa khas Nana, “apa yang kau lakukan disini?” kutanyakan pertanyaan yang sama karena seingatku dia belum menjawab pertanyaanku tadi. Atau aku yang lupa tadi sudah bertanya apa belum?

“Hei, seharusnya itu pertanyaanku. Apa yang kau lakukan disini? Malam-malam di luar sendirian sedangkan yang lain sudah berlayar menuju pulau mimpi masing-masing.”

“Aku tidak bisa tidur. Aku ingin mencari suasana sunyi, sepi, tenang. Aku suka.” Inilah kebiasaanku yang menyukai suasana tenang. Aku tidak suka suasana ramai. Itu sangat menggangguku.

“Tapi tidak perlu disini, kan? Sudah malam dan dingin. Kamu juga tidak memakai jaket. Kalau kamu sakit bagaimana? Disini masih beberapa hari lagi. Ayo masuk lagi, disana lebih hangat. Kamu tidak akan sakit nanti.”

“Kau sudah seperti ibuku saja.” Aku terkekeh geli setiap mendengar Nana mengomel panjang lebar karena hal-hal yang ku lakukan. Seperti tadi contohnya padahal dia sendiri juga tidak memakai jaket walau tahu udara cukup dingin. “sebentar lagi aku masuk. Kau duluan saja.”

Setelah perdebatan kecil yang selalu kami lakukan, akhirnya aku menang. Ini pertama kalinya Nana menuruti mauku. Biasannya dia tidak akan menyerah bila aku belum menuruti apa maunya.

“Na…” panggilku ketika Nana mulai melangkah meninggalkanku.

“Ya…” dia menatapku lekat saat sepersekian detik aku hanya mematung, “ada apa?” lanjutnya.

Aku ragu harus bertanya atau tidak. Dia kelihatan mulai cemas. Ya Tuhan, Nana benar-benar seperti kekasih hatiku saja. “Laki-laki itu… kau tahu siapa laki-laki yang biasanya di dapur?” Tanyaku ragu-ragu.

“Laki-laki? Di dapur? Yang mana yang kau maksud? Disini banyak laki-laki kau tahu.”

“Lupakan, tidak penting. Sudah sana kau masuklah dulu” tanpa banyak kata Nana langsung melesat meninggalkanku. Ku lihat dia mendekapkan tangan ke depan dada –kedinginan mungkin. Karena udara memang benar-benar dingin.

Disini aku masih merenung, bersama bayangnya yang tak jua keluar dari kepalaku. Terus menerobos gerbang hati dan pikiranku yang tak pernah terbuka sebelumnya. Tak pernah bisa dilewati dan ditembus oleh siapapun. Tidak –sebelum aku bertemu laki-laki itu. Pertahananku hancur seketika ketika mata ini memandangnya untuk pertama kali. Dia. Hanya dia yang bisa melakukannya. Hanya dia yang bisa menemukan dan membuka gerbang hatiku. Hanya dia, laki-laki itu.

Hhufftt… ku hebuskan nafas lelah. Lelah dengan hati dan pikiranku yang tidak bisa bekerjasama. Aku masih bergelung dengan duniaku ketika kurasakan sesuatu –seperti kain- menyelimuti pundakku. Oh, jaket. Ternyata Nana kembali lagi hanya untuk memberiku jaket. Perhatian sekali. Aku semakin menyayanginya.

“Bulan purnama. Indah, ya?” suara itu? Itu bukan suara Nana. Seketika jantungku berdetak di luar batas normal. Ku angkat kepalaku dan menoleh pada orang yang ada di belakangku untuk melihat siapa pemilik suara itu. Nafasku tercekat. Jantungku terasa berhenti berdetak. Orang itu…

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar