Part
1
Jika
kau ingin tahu siapa dia, biar ku ceritakan padamu, pada kalian, pada mereka
dan pada siapapun yang bersedia mendengarkan dongeng tentang kisahku, kisah
perjalanan hidupku. Bukan. Lebih tepatnya kisah dari perjalanan cintaku.
Pernah
suatu ketika aku pergi bersamanya, dan juga bersama makluk yang bernama manusia lainnya tentu saja. Kami, aku dan
juga teman-temanku pergi ke sebuah pantai di daerah terpencil. Bisa kalian
bayangkan apa jadinya bila aku takut dengan ombak pantai dan mereka semua
mengajakku berenang di pantai. Jangankan berenang di pantai, berenang di kolam
renang saja hanya renang gaya batu yang ku bisa. Iya, nyebur di kolam renang
dan tidak kembali lagi ke permukaan. Itu namanya gaya batu, kan?
Aku
ketakutan. Sangat ketakutan ketika teman-teman memaksaku dengan cara
menyeburkan paksa diriku di pantai. Entah karena apa dia mendekatiku. Entah
setan apa yang merasukinya, dia menggenggam erat tanganku. Menenangkanku.
Tak
percaya dengan apa yang terjadi saat ini, detik ini. Sungguh aku tak percaya.
Rasanya seperti mimpi dan mungkin memang aku hanya sedang bermimpi. Jika iya,
maka ini adalah mimpi terindahku. Tolong jangan bangunkan aku dari mimpi
indahku ini.
Namun,
hantaman ombak pada tubuhku, tubuh kami, menyadarkanku bahwa ini bukanlah
mimpi. Ini, yang terjadi pada detik ini adalah kenyataan yang akan terkenang
sepanjang waktu. Sepanjang masa. Dan sepanjang sejarah kehidupan seorang Aira.
Disinilah,
di tempat ini cerita itu bermula, atau berakhir? Entahlah.
Seperti
orang bodoh, aku hanya membeku menatap wajah tampannya yang serius
berkonsentrasi melawan gelombang demi gelombang yang terus dan terus menghantam
kami tanpa lelah. Genggaman tangannya pada tanganku menjadi satu-satunya
tumpuanku agar aku bisa bertahan dan tidak terbawa arus gelombang.
Jika
kalian ingin tahu, saat ini kami sedang bermain ombak dengan membentuk benteng
pemecah ombak. Kami, aku dan teman-teman yang lain tentu saja, saling berjejer
dan saling bergandengan tangan. Namun posisiku yang paling pinggir membuat dia
yang menjadi satu-satunya tumpuanku.
Dia
dan juga kami semua menjadi basah kuyup dan sangat menikmati permainan kami
ini. Permainan menyenangkan baginya namun permainan ini sama halnya dengan
permainan yang terus mengombang-ambingkan hatiku. Permainan yang hantaman
gelombangnya terasa sampai ke pusat ulu hati. Permainan yang gelombangnya mampu
membawaku, menyeretku mengikuti putaran arus. Berputar dan terus berputar tanpa
ku ketahui porosnya.
Ketika
gelombang ombak berikutnya siap menerjang kami, dia mengeratkan genggaman
tangannya. Ini terasa berbeda, kulirik sekilas pada genggamannya. Entah sejak
kapan jemari kami saling bertautan dan saling menggenggam erat.
Menyadari
posisi jemari kami saat ini, kurasakan aliran darah mengalir menjadi satu dan
berhenti tepat diwajahku. Jika aku bercermin, mungkin wajahku akan semerah
tomat matang. Kurasakan juga debaran jantungku yang semakin liar seakan siap
sedia melompat keluar dari tempatnya. Ya Tuhan… kenapa selalu seperti ini.
Aku
tidak akan pernah bosan seperti ini terus bersamanya. Asalkan bersamanya
walaupun satu menit enam puluh detik, enam puluh menit satu jam, dua puluh
empat jam satu hari, tujuh hari satu minggu dan seterusnya, asalkan dia terus
menggenggam tanganku aku tidak akan pernah bosan. Ku lihat ke arahnya
diam-diam. Ku lihat senyum dan tawa lepas di wajah tampannya. Kurasakan sudut
bibirku terangkat keatas melengkung membentuk sebuah senyum kecil. Senyum kecil
bahagia. Hingga…
Gelombang
ombak besar itu mengalahkan pertahanan kami. Aku terjatuh dan hampir saja
terbawa arus jika dia tidak menolongku. Sepertinya dia terjatuh juga namun dia
lebih bisa menguasai keadaan. Dengan cepat dia menolongku dan segera membawaku
ke tepi. Ini akibat aku melamun, hampir saja nyawaku melayang di udara.
Dia
menenangkanku dengan sabar. Duduk disampingku dengan jari-jari kami yang masih
bertautan satu sama lalin, sementara tangan yang lain mengelus punggungku
mungkin bermaksud menenangkanku. Aku benar-benar merutuki kecerobohanku karena
telah melamun di tengah air yang siap menelanku hidup-hidup.
“Kamu
tidak apa-apa? Ada yang sakit?” ujarnya dengan nada yang terdengar khawatir.
Walaupun
jujur aku masih shock dengan semua ini namun kugelengkan kepalaku dan berkata,
“Tidak, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Ku coba untuk tersenyum,
walaupun rasanya senyumku hanyalah sebuah ringisan.
“Kau
yakin tidak apa-apa? Rasanya kau tidak terlihat baik.”
“Jangan
khawatir, aku tidak selemah itu. Maafkan aku.” Kataku kemudian yang disambut
dengan tatapan bingung darinya.
“Untuk?”
“Membuatmu
ikut terjatuh, membuatmu khawatir dan mungkin juga kau merasa sakit’” ku
berikan senyum terbaikku walau mungkin hanya ringisan lagi yang keluar karena
bagian dadaku memang sakit. Mungkin karena terlalu banyak menelan air,
“seandainya tadi aku tidak melamun mungkin juga tidak akan seperti ini, itu
tadi karena kecerobohanku. Aku benar-benar minta maaf.”
“Itu
tadi hanya sebuah kecelakaan. Kenapa minta maaf?”
“Jika
aku tidak melamun, aku tidak lalai, maka kecelakaan ini tidak akan terjadi.”
“Sudahlah,
tidak ada yang perlu dimaafkan. Asalkan kamu baik-baik saja, everything is
okey.” Jawabnya kemudian dengan senyum tulus memikatnya.
Hening
sesaat. Dia sibuk dengan pikirannya sedangkan aku sibuk menyembunyikan rasa
sakit yang kian menumpuk di dadaku.
“Ehm,
Ai kalau boleh tahu kau melamunkan apa?” Pertanyaan macam apa ini? Apa aku
harus bilang kalau aku melamunkan kamu yang terlihat begitu tampan? Memalukan.
“Apa?
Oh, itu… tidak. Aku hanya melamunkan sesuatu.” Sesuatu? Yang benar saja? Aku
melamunkan seseorang bukan sesuatu.
“Benarkah?
Bukan seseorang ya? Tapi sesuatu.” Ku lihat dia mengernyitkan dahinya. Tidak
percaya, mungkin itu yang lebih tepat.
“Benar.
Sesuatu bukan seseorang. Ya. Sesuatu.” Ku angguk-anggukkan kepalaku mencoba
meyakinkannya.
“Kamu
jawab yang jujur. Itu seseorang, kan? Bukan sesuatu.” Sebuah pertanyaan yang
lebih ke pernyataan meluncur dari bibir indahnya.
“Seseorang?
Yang benar saja, lagi pula siapa yang aku lamunkan sampai hampir merenggut
nyawaku? Sungguh tidak ada alasan untuk itu.”
“Mungkin
saja seseorang itu adalah orang yang tadi jatuh bersamamu, orang yang sama yang
saat ini duduk di sampingmu dan orang yang sama yang saat ini menggenggam erat
tanganmu. Dengan kata lain orang itu adalah…”
“Ariel,
kau kemana saja? Dari tadi aku mencarimu. Ternyata kau di sini.”
Suara
itu. Suara wanita yang sangat aku kenal. Suara yang sangat ingin aku hindari
saat ini. Ku tolehkan kepalaku ke kanan. Ku lihat dia, perempuan itu bergelayut
manja di lengan kanan Alil. Memeluknya erat seolah berkata pada dunia bahwa Alil
adalah miliknya, ya miliknya seorang.
Masih
ku lihat Alil tersenyum dan dengan telaten menanggapi celoteh wanita itu, Rida.
Sementara tangan kirinya masih menggenggam erat tanganku. Ku coba melepaskan
tautan jemari kami, tapi jari jemari Alil semakin kuat menggenggamnya. Aku
benar-benar tidak nyaman sekarang. Rasanya aku seperti... seperti… seperti
selingkuhannya. Ya selingkuhannya. Menyedihkan, bukan?
Jika
boleh memilih, maka aku akan memilih untuk pergi dari tempat ini. Angin, bawa
aku pergi dari sini. Aku benar-benar tidak bisa melihatnya seperti ini. Rasa
sakit di dadaku kian bertambah, entah ini karena sakit terkena air tadi atau
karena hal lain, entahlah.
Tak
begitu ku dengar suara-suara dua manusia di sampingku ini. Pikiranku melayang
entah kemana. ku lirik lagi mereka, sekarang Rida benar-benar menempel pada
Alil. Namun tetap tangan kiri Alil menggenggam erat tanganku.
Alil,
tak tahukah kau? genggaman tanganmu semakin menambah sakit hatiku. Tak
mengertikah kau? Kemesraanmu bersamannya semakin menyesakkan dadaku. Ku rasakan
mataku memanas. Pandanganku mulai kabur terhalang oleh cairan bening di pelupuk
mataku. Oh Tuhan, aku sungguh tak kuasa melihat pemandangan di sampingku ini.
Perlahan
ku lepaskan tanganku dari Alil, namun lagi-lagi dia semakin mengeratkan
genggamannya. Hingga ku rasakan sesuatu merembes keluar dari mataku, meluncur dengan
indahnya di pipiku dan menetes di tanganku yang sedang digenggam Alil.
Dapat
ku rasakan dari tangannya kalau Alil menegang. Dia menoleh padaku dan reflek ku
usap kedua mataku, “Aira, kamu kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir.
Ku
gelengkan kepalaku, “tidak. Aku mau pulang.”
“Kau
pucat sekali Aira, kau sakit? Aku antar kamu pulang ya?”
“Ihh,,,
Ariel, kita main yuk.” Sebuah suara yang memotong, bukan- bukan memotong tapi
mendahuluiku menjawab pertanyaan, bukan pertanyaan melainkan lebih ke
permintaan Alil.
“Tapi
Ri, Aira sakit. Bahaya bila dia pulang sendiri. Sebentar aku antar dia pulang
nanti aku kembali lagi kesini, bagaimana?” kata Alil membujuk Rida.
“Tidak
perlu Ariel, aku pulang dengan Nana, itu lebih baik. Kau lanjutkan saja
permainannya dengan Rida. Kasihan dia dari tadi mencarimu. Masa baru ketemu mau
kau tinggal pergi.” Ujarku seraya mengeratkan tautan jemari kami untuk
meyakinkannya.
“Kau
lihat, kan? Aira saja bilang tidak apa-apa. Ayo kesana.” Lagi-lagi Rida menyela.
Kali ini dia menarik Alil, sehingga genggaman tangannya hampir lepas.
Ku
lihat Alil tidak rela. Kenapa? Seharusnya dia senang kan bisa bersama dengan
Rida, wanita yang sempurna. Namun, Rida semakin menarik Alil hingga tanpa kata
Alil benar-benar melepaskan tanganku. Aku sangat tidak rela. Hampa.
Rasanya
separuh hatiku tercabut bersama lepasnya genggaman tangannya. Air mataku
mengalir semakin deras kala ku lihat dia sekali lagi menoleh kearahku. “Jangan.
Jangan pergi. Kembalilah! Alil, kembalilah!” Ingin ku teriakkan kata-kata itu
padanya. Lidahku kelu. Bibirku terkunci. Hatiku beku. Hanya mataku saja yang
bicara, itupun bila Alil dapat membacanya.
Segera
ku hapus tetesan air yang mengalir di pipiku kala ku lihat dia tertawa bersama
Rida. Aku sadar selamanya akan tetap begini. Menikamati setiap sakitku dalam
kesendirianku. Dalam setiap heningku dalam malam gelapku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar