Jumat, 20 Februari 2015

moonlight-1


Part 1

Jika kau ingin tahu siapa dia, biar ku ceritakan padamu, pada kalian, pada mereka dan pada siapapun yang bersedia mendengarkan dongeng tentang kisahku, kisah perjalanan hidupku. Bukan. Lebih tepatnya kisah dari perjalanan cintaku.
Pernah suatu ketika aku pergi bersamanya, dan juga bersama makluk yang bernama  manusia lainnya tentu saja. Kami, aku dan juga teman-temanku pergi ke sebuah pantai di daerah terpencil. Bisa kalian bayangkan apa jadinya bila aku takut dengan ombak pantai dan mereka semua mengajakku berenang di pantai. Jangankan berenang di pantai, berenang di kolam renang saja hanya renang gaya batu yang ku bisa. Iya, nyebur di kolam renang dan tidak kembali lagi ke permukaan. Itu namanya gaya batu, kan?
Aku ketakutan. Sangat ketakutan ketika teman-teman memaksaku dengan cara menyeburkan paksa diriku di pantai. Entah karena apa dia mendekatiku. Entah setan apa yang merasukinya, dia menggenggam erat tanganku. Menenangkanku.
Tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, detik ini. Sungguh aku tak percaya. Rasanya seperti mimpi dan mungkin memang aku hanya sedang bermimpi. Jika iya, maka ini adalah mimpi terindahku. Tolong jangan bangunkan aku dari mimpi indahku ini.
Namun, hantaman ombak pada tubuhku, tubuh kami, menyadarkanku bahwa ini bukanlah mimpi. Ini, yang terjadi pada detik ini adalah kenyataan yang akan terkenang sepanjang waktu. Sepanjang masa. Dan sepanjang sejarah kehidupan seorang Aira.
Disinilah, di tempat ini cerita itu bermula, atau berakhir? Entahlah.
Seperti orang bodoh, aku hanya membeku menatap wajah tampannya yang serius berkonsentrasi melawan gelombang demi gelombang yang terus dan terus menghantam kami tanpa lelah. Genggaman tangannya pada tanganku menjadi satu-satunya tumpuanku agar aku bisa bertahan dan tidak terbawa arus gelombang.
Jika kalian ingin tahu, saat ini kami sedang bermain ombak dengan membentuk benteng pemecah ombak. Kami, aku dan teman-teman yang lain tentu saja, saling berjejer dan saling bergandengan tangan. Namun posisiku yang paling pinggir membuat dia yang menjadi satu-satunya tumpuanku.
Dia dan juga kami semua menjadi basah kuyup dan sangat menikmati permainan kami ini. Permainan menyenangkan baginya namun permainan ini sama halnya dengan permainan yang terus mengombang-ambingkan hatiku. Permainan yang hantaman gelombangnya terasa sampai ke pusat ulu hati. Permainan yang gelombangnya mampu membawaku, menyeretku mengikuti putaran arus. Berputar dan terus berputar tanpa ku ketahui porosnya.
Ketika gelombang ombak berikutnya siap menerjang kami, dia mengeratkan genggaman tangannya. Ini terasa berbeda, kulirik sekilas pada genggamannya. Entah sejak kapan jemari kami saling bertautan dan saling menggenggam erat.
Menyadari posisi jemari kami saat ini, kurasakan aliran darah mengalir menjadi satu dan berhenti tepat diwajahku. Jika aku bercermin, mungkin wajahku akan semerah tomat matang. Kurasakan juga debaran jantungku yang semakin liar seakan siap sedia melompat keluar dari tempatnya. Ya Tuhan… kenapa selalu seperti ini.
Aku tidak akan pernah bosan seperti ini terus bersamanya. Asalkan bersamanya walaupun satu menit enam puluh detik, enam puluh menit satu jam, dua puluh empat jam satu hari, tujuh hari satu minggu dan seterusnya, asalkan dia terus menggenggam tanganku aku tidak akan pernah bosan. Ku lihat ke arahnya diam-diam. Ku lihat senyum dan tawa lepas di wajah tampannya. Kurasakan sudut bibirku terangkat keatas melengkung membentuk sebuah senyum kecil. Senyum kecil bahagia. Hingga…
Gelombang ombak besar itu mengalahkan pertahanan kami. Aku terjatuh dan hampir saja terbawa arus jika dia tidak menolongku. Sepertinya dia terjatuh juga namun dia lebih bisa menguasai keadaan. Dengan cepat dia menolongku dan segera membawaku ke tepi. Ini akibat aku melamun, hampir saja nyawaku melayang di udara.
Dia menenangkanku dengan sabar. Duduk disampingku dengan jari-jari kami yang masih bertautan satu sama lalin, sementara tangan yang lain mengelus punggungku mungkin bermaksud menenangkanku. Aku benar-benar merutuki kecerobohanku karena telah melamun di tengah air yang siap menelanku hidup-hidup.
“Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?” ujarnya dengan nada yang terdengar khawatir.
Walaupun jujur aku masih shock dengan semua ini namun kugelengkan kepalaku dan berkata, “Tidak, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Ku coba untuk tersenyum, walaupun rasanya senyumku hanyalah sebuah ringisan.
“Kau yakin tidak apa-apa? Rasanya kau tidak terlihat baik.”
“Jangan khawatir, aku tidak selemah itu. Maafkan aku.” Kataku kemudian yang disambut dengan tatapan bingung darinya.
“Untuk?”
“Membuatmu ikut terjatuh, membuatmu khawatir dan mungkin juga kau merasa sakit’” ku berikan senyum terbaikku walau mungkin hanya ringisan lagi yang keluar karena bagian dadaku memang sakit. Mungkin karena terlalu banyak menelan air, “seandainya tadi aku tidak melamun mungkin juga tidak akan seperti ini, itu tadi karena kecerobohanku. Aku benar-benar minta maaf.”
“Itu tadi hanya sebuah kecelakaan. Kenapa minta maaf?”
“Jika aku tidak melamun, aku tidak lalai, maka kecelakaan ini tidak akan terjadi.”
“Sudahlah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Asalkan kamu baik-baik saja, everything is okey.” Jawabnya kemudian dengan senyum tulus memikatnya.
Hening sesaat. Dia sibuk dengan pikirannya sedangkan aku sibuk menyembunyikan rasa sakit yang kian menumpuk di dadaku.
“Ehm, Ai kalau boleh tahu kau melamunkan apa?” Pertanyaan macam apa ini? Apa aku harus bilang kalau aku melamunkan kamu yang terlihat begitu tampan? Memalukan.
“Apa? Oh, itu… tidak. Aku hanya melamunkan sesuatu.” Sesuatu? Yang benar saja? Aku melamunkan seseorang bukan sesuatu.
“Benarkah? Bukan seseorang ya? Tapi sesuatu.” Ku lihat dia mengernyitkan dahinya. Tidak percaya, mungkin itu yang lebih tepat.
“Benar. Sesuatu bukan seseorang. Ya. Sesuatu.” Ku angguk-anggukkan kepalaku mencoba meyakinkannya.
“Kamu jawab yang jujur. Itu seseorang, kan? Bukan sesuatu.” Sebuah pertanyaan yang lebih ke pernyataan meluncur dari bibir indahnya.
“Seseorang? Yang benar saja, lagi pula siapa yang aku lamunkan sampai hampir merenggut nyawaku? Sungguh tidak ada alasan untuk itu.”
“Mungkin saja seseorang itu adalah orang yang tadi jatuh bersamamu, orang yang sama yang saat ini duduk di sampingmu dan orang yang sama yang saat ini menggenggam erat tanganmu. Dengan kata lain orang itu adalah…”
“Ariel, kau kemana saja? Dari tadi aku mencarimu. Ternyata kau di sini.”
Suara itu. Suara wanita yang sangat aku kenal. Suara yang sangat ingin aku hindari saat ini. Ku tolehkan kepalaku ke kanan. Ku lihat dia, perempuan itu bergelayut manja di lengan kanan Alil. Memeluknya erat seolah berkata pada dunia bahwa Alil adalah miliknya, ya miliknya seorang.
Masih ku lihat Alil tersenyum dan dengan telaten menanggapi celoteh wanita itu, Rida. Sementara tangan kirinya masih menggenggam erat tanganku. Ku coba melepaskan tautan jemari kami, tapi jari jemari Alil semakin kuat menggenggamnya. Aku benar-benar tidak nyaman sekarang. Rasanya aku seperti... seperti… seperti selingkuhannya. Ya selingkuhannya. Menyedihkan, bukan?
Jika boleh memilih, maka aku akan memilih untuk pergi dari tempat ini. Angin, bawa aku pergi dari sini. Aku benar-benar tidak bisa melihatnya seperti ini. Rasa sakit di dadaku kian bertambah, entah ini karena sakit terkena air tadi atau karena hal lain, entahlah.
Tak begitu ku dengar suara-suara dua manusia di sampingku ini. Pikiranku melayang entah kemana. ku lirik lagi mereka, sekarang Rida benar-benar menempel pada Alil. Namun tetap tangan kiri Alil menggenggam erat tanganku.
Alil, tak tahukah kau? genggaman tanganmu semakin menambah sakit hatiku. Tak mengertikah kau? Kemesraanmu bersamannya semakin menyesakkan dadaku. Ku rasakan mataku memanas. Pandanganku mulai kabur terhalang oleh cairan bening di pelupuk mataku. Oh Tuhan, aku sungguh tak kuasa melihat pemandangan di sampingku ini.
Perlahan ku lepaskan tanganku dari Alil, namun lagi-lagi dia semakin mengeratkan genggamannya. Hingga ku rasakan sesuatu merembes keluar dari mataku, meluncur dengan indahnya di pipiku dan menetes di tanganku yang sedang digenggam Alil.
Dapat ku rasakan dari tangannya kalau Alil menegang. Dia menoleh padaku dan reflek ku usap kedua mataku, “Aira, kamu kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir.
Ku gelengkan kepalaku, “tidak. Aku mau pulang.”
“Kau pucat sekali Aira, kau sakit? Aku antar kamu pulang ya?”
“Ihh,,, Ariel, kita main yuk.” Sebuah suara yang memotong, bukan- bukan memotong tapi mendahuluiku menjawab pertanyaan, bukan pertanyaan melainkan lebih ke permintaan Alil.
“Tapi Ri, Aira sakit. Bahaya bila dia pulang sendiri. Sebentar aku antar dia pulang nanti aku kembali lagi kesini, bagaimana?” kata Alil membujuk Rida.
“Tidak perlu Ariel, aku pulang dengan Nana, itu lebih baik. Kau lanjutkan saja permainannya dengan Rida. Kasihan dia dari tadi mencarimu. Masa baru ketemu mau kau tinggal pergi.” Ujarku seraya mengeratkan tautan jemari kami untuk meyakinkannya.
“Kau lihat, kan? Aira saja bilang tidak apa-apa. Ayo kesana.” Lagi-lagi Rida menyela. Kali ini dia menarik Alil, sehingga genggaman tangannya hampir lepas.
Ku lihat Alil tidak rela. Kenapa? Seharusnya dia senang kan bisa bersama dengan Rida, wanita yang sempurna. Namun, Rida semakin menarik Alil hingga tanpa kata Alil benar-benar melepaskan tanganku. Aku sangat tidak rela. Hampa. 
Rasanya separuh hatiku tercabut bersama lepasnya genggaman tangannya. Air mataku mengalir semakin deras kala ku lihat dia sekali lagi menoleh kearahku. “Jangan. Jangan pergi. Kembalilah! Alil, kembalilah!” Ingin ku teriakkan kata-kata itu padanya. Lidahku kelu. Bibirku terkunci. Hatiku beku. Hanya mataku saja yang bicara, itupun bila Alil dapat membacanya.
Segera ku hapus tetesan air yang mengalir di pipiku kala ku lihat dia tertawa bersama Rida. Aku sadar selamanya akan tetap begini. Menikamati setiap sakitku dalam kesendirianku. Dalam setiap heningku dalam malam gelapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar