Jika kata orang menunggu itu menyebalkan, maka bagiku
menunggu itu adalah mendebarkan.
Debaran tak bernama yang selalu singgah disini, di jantungku.
Debaran dalam kebisuan disini, di tempat ini, di taman utara perpustakaan
kampusku.
Debaran yang selalu ada kala ku lihat bayangnya. Hanya
bayangnya dan selalu bayangnya. Debaran yang selalu datang kala ada dia. Hanya
dia. Bukan yang lain. Bukan kamu, bukan juga mereka.
Di taman ini, ku ukir kisahku. Kisah ketika aku selalu setia
menunggunya di jam istirahat. Jam yang bisa dipastikan dia akan keluar dari
kantor Badan Eksekutif Mahasiswa dan masuk menuju perpustakaan. Dan tempat aku
menikmati senja, dimana aku akan melihatnya berjalan pulang.
Disini, aku selalu berharap bahwa dia sadar akan
keberadaanku. Dia akan melihatku. Dia akan datang padaku. Atau setidaknya dia
akan menyapaku. Itu cukup bagiku.
Harapan yang hanya sekedar harapan, karena aku tidak berani
berharap lebih. Aku tidak berani berharap dia akan datang padaku. Lebih baik
aku menikmati indahnya dari jauh saja daripada aku akan sakit hati nantinya,
aku belum siap untuk itu.
*
Entah kesialan atau apa, hari ini aku telat datang sehingga
bangku taman itu sudah diduduki oleh manusia lain. Aku hanya melihat
punggungnya yang telah menghilang ditelan pintu perpustakaan.
Semua ini gara-gara telpon sialan itu. Seandainya dia,
manusia tidak jelas itu, tidak telpon maka aku bisa melihat dia lagi. Namun
sebuah ide cemerlang muncul di kepala cantikku. Aku masuk ke perpustakaan. Aku
pasti tahu kemana arahnya pergi karena dia satu fakultas denganku.
Bergegas aku masuk ke perpustakaan, setelah menyerahkan kartu
anggota perpustakaan kepada petugas, meletakkan tas di loker, aku bergegas
menuju lantai dua dimana perpustakaan fakultas pendidikan berada. Benar, kan? dia
ada disana. Di antara rak buku, sedang memilih buku ku rasa.
Hari ini dia tampak keren sekali dengan kemeja hijau
kotak-kotak lengan pendek. Juga kaca mata yang selalu bertengger manis di
hidung mungilnya. Dia memang manis dan keren. Dia tidak kekar, tidak sixpack,
tidak tinggi untuk ukuran laki-laki, tidak juga bermata tajam, dia tidak
sesempurna itu. Bisa dikatakan dia mungil untuk ukuran laki-laki tapi dia
tampan dengan caranya sendiri.
Aku berjalan mendekat ke arahnya ikut sibuk memilih buku di
rak sebelahnya sambil sesekali meliriknya. Yang benar saja aku memilih buku?
Jawabannya tentu saja tidak. Aku tidak satu jurusan dengannya jadi bisa dipastikan bahwa buku-buku yang
kubutuhkan ada di ruang sebelah. Itupun kalau aku membutuhkan bukunya. Begitu
dia konsentrasi dengan buku di tangannya aku mengeluarkan ponselku dan mulai
memotretnya. Walau tidak jelas wajahnya tapi aku cukup puas dengan hasilnya
karena memang aku mengambil gambar dari arah samping.
*
Drrrttt ddrrrtttt drrrtttt
Getar handphone-ku membawaku kembali dari pulau mimpiku.
Siapa juga yang kurang kerjaan dengan menelfon tengah malam begini.
"Ya, halo. Ada apa?" sapaku langsung setelah aku
memencet tombol jawab.
"Hai sweetheart, Sudah tidur, ya?" jawab suara di
seberang sana. Suara seorang laki-laki tapi cukup kalem dan merdu. Tentu saja
aku sudah tidur. Lagi pula ini sudah tengah malam, bukan?
"Sebelum kau membangunkanku." dia hanya terkekeh
tidak menjawab pernyataanku. "Maaf, ini siapa, ya?" tanyaku begitu
aku sadar bahwa aku merasa asing dengan suara ini. Bahkan aku merasa belum
pernah mendengar suara ini.
"Kau lupa."
"Ini pertanyaan atau pernyataan?"
"Padahal baru tadi siang aku menelfonmu. Aku kecewa,
lho."
"Kau manusia aneh. Aku bahkan tidak mengenalmu.
Bagaimana kau bisa kecewa?"
"Kau tahu aku."
Tut tut tut. Begitu saja sambungan telfon diputus. Manusia
satu ini benar-benar sakit. Mengganggu tidurku hanya untuk hal-hal tak jelas.
Drrrttt drrrttt
Lagi-lagi HP ku bergetar.
'Sweetheart, sweet dream and dream about me, Khalila.'
Aku langsung mematikan handphone-ku begitu selesai membaca
pesan yang tidak jelas tuannya. Kemudian aku kembali berlayar ke pulau kapuk,
nyenyaknya…
*
Kebiasaan baruku setelah kejadian di perpustakaan kemarin
bertambah. Yaitu aku suka, sangat suka mengabadikan apapun tentang dia dalam
memori handphone-ku. Aku selalu memotret apapun yang dia kerjakan. Ketika dia
mengobrol dengan teman-temannya di depan gedung UKM, ketika dia duduk-duduk di
depan kantor BEM, ketika dia berjalan, tersenyum, tertawa, dan apapun yang bisa
tertangkap kamera aku abadikan.
Masih jam kelima. Aku kembali ke tempat penantian terindahku.
Tidak ada rencana menunggu karena aku memang akan mengerjakan tugas kelompok di
taman perpustakaan, tempat yang cukup teduh dan nyaman untuk berdiskusi.
Ternyata aku masih terlalu pagi, atau aku terlalu rajin? Atau
mungkin hanya alibi? Entahlah, karena belum ada satupun anggota kelompokku yang
datang. Mengerjakan tugas sendiri, dalam hening, sungguh menyenangkan.
Namun konsentrasiku terpecah ketika suara lembut yang sepertinya
cukup asing terdengar di rongga pendengarku.
"Indah" sapanya entah pada siapa.
Aku mendongakkan kepalaku. Menatap tajam tepat pada mata
teduhnya. Lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari siapa yang disapanya.
Nihil. Karena disini memang hanya ada aku dan dia.
Entah kenapa dadaku menjadi sesak. Sepertinya oksigen lenyap
dari sekitarku. Aku tidak bisa bernafas, aku butuh pasokan oksigen sekarang.
Sungguh aku sangat membutuhkannya.
Penantian, harapan dan doa-doaku untuk dia datang walau hanya
sekedar menyapa akhirnya terjawab. Tapi tidak seperti ini yang ku harapkan. Dia
datang padaku, menyapa dan mengenaliku sebagai gadis lain, Indah, bukan aku
yang bernama Khalila. Sedangkan yang kuharapkan adalah dia datang padaku hanya
karena aku Khalila, bukan karena gadis lain bernama Indah.
Ternyata sungguh sakit ketika seseorang yang kamu cintai
mengenalimu sebagai orang lain bukan sebagai dirimu.
"Maaf, mas mencari siapa, ya?" tanyaku padanya yang
lebih pada caraku untuk menetralkan hatiku yang remuk.
"Kamu. Indah." jawabnya. Dan sekali lagi dia
memanggil nama orang yang salah. Bukan. Bukan orang yang salah tapi salah
mengenali orang.
"Boleh aku bergabung?" lanjutnya lagi. Namun belum
sempat aku menjawab dia sudah duduk di bangku sebelahku. Dan hey, lalu apa
maksud permintaan izinnya tadi jika aku belum mengizinkan tapi dia sudah duduk
manis bergabung denganku.
"Maaf, mas salah orang, ya? Saya bukan Indah."
"Hai sweetheart."
Sweetheart? Aku merasa tidak asing dengan sapaan itu. Tapi
kapan ada orang menyapaku dengan sapaan seperti itu? Lalu dimana aku disapa
seperti itu? Entahlah.
"Maaf, mas. Anda salah mengenali orang. Nama saya bukan
Indah dan bukan juga Sweetheart." aku benar-benar merasa marah, sakit hati
dan jengkel dalam waktu bersamaan. Aku baru mengemasi buku-bukuku dan akan
beranjak ketika dia berkata, "bukankah Khalila artinya adalah
sweetheart?"
Lagi-lagi aku terdiam. Dia tahu namaku. Sejak kapan?
"Seorang gadis mungil yang selalu menanti kehadiranku
disini dan selalu di tempat ini. Khalila yang cantik. Khalila yang indah, sejuk
dipandang." dia selalu punya cara untuk menghentikanku.
"Maaf jika selama ini aku selalu mengabaikanmu. Tidak
menganggap hadirmu. Bahkan menganggapmu tidak pernah ada. Aku baru menyadarinya
sejak aku menemukan ini disini."
Dia mengeluarkan lembaran kertas putih yang berisikan foto.
Aku menutup mulutku tidak percaya. Foto itu adalah fotonya di perpustakaan yang
aku print entah kapan harinya. Aku lupa.
Foto dengan tulisan "My Harry Potter" hasil
editanku.
"Hai sweetheart, Lil indah, bolehkah kita kenalan?"
kali ini mengangguk kecil sebagai jawabanku.
Dia mengulurkan tangannya sembari berkata,"Namaku
Ulum."
"Lila. Khalila." balasku mengenalkan diriku
padanya.
"Aku tahu." dia menjawab dan memberikan senyum
manisnya padaku. Kemudian dia memberikanku sebuah amplop cokelat.
Ku buka amplop tersebut dan sekali lagi aku ternganga melihat
isinya yang berupa fotoku sedang duduk di taman ini dengan tulisan 'She's My
Lil Indah' di dalamnya.
Ternyata penantianku selama ini berbuah manis. Doaku
terijabah. Harapanku tercapai. Dan mimpiku menjadi nyata. Namun, apakah ini
akan selalu semanis dan selurus harapanku?
Sebuah tanda tanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar