Kamis, 12 Maret 2015

Moonlight 3

Part 3

Orang itu… mataku membelalak tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Dengan apa yang sekarang ada di depanku, dihadapan kedua mataku.

“Kau… penunggu dapur itu, kan?” ish… Aira bodoh, pertanyaan macam apa itu?

“Sebegitu terkesankah sampai sebegitunya mengingat aku?” dia terkekeh menjawab pertanyaan spontanku. Entah bagian mana yang menurutnya lucu. Aah.. aku tahu, tentu saja itu lucu baginya, tidak masuk akal. Memang itu pertanyaan bodoh. Menyebalkan. Tanpa sadar ku kerucutkan bibirku tanda aku memang sebal. Percaya diri sekali manusia satu ini!

“Percaya diri sekali.”

“Harus. Memang kenyataannya begitu.” Ternyata tanpa sadar ku lisankan apa yang ada dipikiranku. Tapi lihatlah, kalian tahu sendiri kan dia sombong sekali.

“Kenapa belum tidur?” tanyanya ketika tiba-tiba dia duduk di bangku yang sama denganku.

Tanpa sadar –refleks- ku pegang dada kiriku yang semakin berdebar tak terkendali, “belum mengantuk,” jawaban sempurna, aku tidak berbohong setidaknya.

“Oh maaf. Ini jaketmu” sambungku setelah beberapa saat terdiam sambil melepas jaket yang dia sampirkan dipundakku tadi. Namun dia bergerak lebih cepat untuk menahan gerakan tanganku melepas jaket, “jangan dilepas. Udara dingin sekali, nanti kamu bisa sakit kalau kamu tidak memakai jaket. Tadi kulihat kau tidak memakai jaket, jadi maaf bila ku pakaikan jaketku, setidaknya sedikit menghangatkanmu.” Jelasnya panjang lebar. Menatapku dan tersenyum.

Lagi-lagi senyum itu. Senyum yang selalu menggetarkan hatiku.

“Tapi kamu membutuhkan jaket ini, kamu juga tidak memakai jaket kan?”

“Hei, aku laki-laki, aku lebih kuat dari wanita”

“Ku kira laki-laki juga bisa sakit.”

“Tak usah protes, dipakai saja jaketnya.” Katanya sembari merapatkan kembali jaket di tubuhku. Aku bengong melihatnya dari jarak sedemikian dekat. Dia sungguh tampan. Aku segera menundukkan kepala begitu menyadari sedari tadi aku menatapnya lekat.

Kekakuanpun terjadi diantara kami, tidak ada yang berinisiatif membuka percakapan guna memecah kekakuan ini. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku sibuk memandang sepasang kakiku yang lebih menarik untuk dipandang dari pada dia sambil sesekali melirik kearah kananku dimana seorang malaikat sedang duduk dengan senyum terkembang di kedua sudut bibirnya. Tampan.

“Ehm…” dia berdehem sejenak, “Aira, kan? Mahasiswa sastra tahun terakhir.”

Entah itu pertanyaan atau pernyataan aku tidak tahu. Yang jelas itu sukses membuatku melongo. Bagaimana dia bisa tahu tentang aku sedangkan aku baru tahu dia tadi pagi.

“Sastra inggris tepatnya.” Lagi-lagi dia tertawa kecil  mendengar jawabanku. Kenapa manusia satu ini begitu menyebalkan? Ataukah memang ada yang aneh pada diriku?

“Ada yang lucu?”

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Terus kenapa tertawa?”

“Aira sang bidadari. Suka menyendiri dan tenggelam dalam dunia kata. Itulah mengapa kau ada disini saat ini. Menyelam dalam kedalaman dunia katamu.” Lagi-lagi aku hanya terbengong.

“Sok puitis.” Entah kenapa justru pernyataan seperti itu yang meluncur dari bibirku. “maksudku…” buru-buru ku tambahkan kalimatku, “aku baru melihatmu dua kali. Bagaimana…”

“Kalau begitu kita perlu kenalan lebih dulu sepertinya. Hai, aku Ariel.” Ujarnya sembari mengulurkan tangan.

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang aneh menurutku. Kami satu rombongan, satu tim kerja, seharusnya dia sudah tahu namaku, kan? Walaupun aku sendiri juga tidak tahu siapa namanya. Tapi jangan salahkan aku, karena kemarin waktu kami semua saling berkenalan dia tidak ada. Bahkan waktu masih mendiskusikan segala sesuatu persiapannya sampai hari dimana acara dimulaipun dia tidak menampakkan batang hidungnya. Wajar, kan kalau aku tidak tahu siapa dia. Aku bahkan baru melihatnya tadi siang.

“Hei, jangan tertawa, jawab saja. Siapa namamu?” ujarnya dengan tangan masih terulur.

Ku balas jabatan tangannya sembari berkata, “Aira.”

“Aku tahu.” Sahutnya cepat. Ish… menyebalkan, bukan? Mana ada kenalan jawabannya seperti itu. Seharusnya kan dijawab dengan senang berkenalan denganmu atau apa gitu, bukan jawaban seperti itu.

“Aril, kamu-“

“Ariel, bukan Aril. A-Ri-El” koreksinya ketika aku salah menyebut namanya.

“Oh, maaf.” Aku jadi terdiam. Entah pertanyaan apa yang ingin ku tanyakan menguap begitu saja hingga suasana kembali hening.

Suasana hening ini sangat bertolak belakang dengan suasana hatiku yang sedari tadi bersorak-sorai. Jantungku berdegup di luar batas normal. Aku khawatir dia bisa mendengarnya. Akan sangat memalukan, bukan?

“Ai, rasanya sudah terlalu larut. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik kamu balik, gih. Istirahat, tidur.” Ujarnya sembari menatapku lekat.

“Ai?” ku kerutkan dahiku tanda aku sedang bingung.

“Iya. Ai. Ada yang salah?”

“Maksudmu Ai?” tanyaku bingung.

“Namamu Aira, kan?” aku langsung mengangguk sebagai jawaban. “Jadi tidak salah, kan aku memanggilmu Ai?” lanjutnya

“Oh… tidak, sih hanya saja belum terbiasa dipanggil Ai. Biasanya juga dipanggil Aira.”

“Kalau begitu biasakan dari sekarang. Ya sudah kamu cepat masuk.” Perintahnya yang terkesan memaksa.

“Iya. Jaketmu.” Aku sudah akan melepas jaket ketika dia memegang bahuku.

“Jangan dilepas. Kamu pakai saja, aku juga akan masuk setelah kamu.”

“Ai…” aku menoleh ketika aku dipanggil.

“Selamat malam.” Aku terdiam sesaat ketika melihat dia tengah tersenyum manis. Aku suka senyumnya. Kubalas senyum itu sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.

*

Ku buka pintu rumah yang memang tidak pernah di kunci. Begitu kaki kananku menginjak ubin untuk yang pertama, ku lihat sepasang mata menatapku dingin, sangat dingin seakan bisa membekukanku hingga pusat saraf dalam sekali tatap. Ada apa ini? Selama sekian hari disini, belum sekalipun aku bertegur sapa dengannya. Tapi kenapa sekali tatap dia seoalah mengibarkan bendera perang? Apa ada yang salah? Tapi apa?

“Emm… Rida, kan? Belum tidur?” tentu saja dia belum tidur, aku bahkan hanya berbasa-basi. Kalau sudah tidur, dia tidak akan berdiri dihadapanku, kan? Tentunya dia sudah bergelung dengan selimutnya kalau dia sudah tidur.

“Matamu buta, ya?” ujarnya dengan nada sinis. Oh Tuhan… ada apa ini? Aku kaget itu sudah pasti dan jangan ditanya lagi karena selama dua puluh tahun hidupku, belum ada yang berkata sekasar itu padaku. Ini yang pertama.

“Oh, begitu, ya? Maaf kalau begitu. Saya permisi.” Lebih baik aku pergi aku sungguh malas dengan orang seperti dia. Wanita cantik tapi bermulut harimau.

“Darimana?” pertanyaan itu bahkan diucapkan dengan nada yang sangat dingin. Aku malas menanggapi. Aku diam saja dan segera berlalu ketika teriakan itu menggema, “Eh, lo budeg, ya? Gue Tanya lo darimana?”

“Ngomong sama aku?” sambil kutunjuk diriku dengan telunjuk kananku.

“Selain buta, budeg, ternyata lo blo’on juga ya?”

“Orang buta tidak tahu dia darimana.” Maaf nona, kau sungguh membuatku malas.

Dengan cepat ku langkahkan kaki menuju kamar dan menutup pintunya rapat. “Aneh sekali, baru juga ketemu udah ngibarin bendera perang. Apa sih maunya itu anak?” aku mengomel sendiri begitu pintu kamar tertutup. Dengan suara lirih tentu saja, karena aku tidak mau membangunkan mereka yang sudah terlelap.

“Baru masuk udah ngedumel, ada apa, sih?” kulihat Nana menatapku dengan dahi berkerut. Oh ternyata dia belum tidur juga.

“Rida.”

“Kenapa dengan Rida?”

“Baru kali ini ketemu, udah ngajak perang, males tau gak? Kaya gak ada kerjaan lain aja.” Nana semakin menatapku lekat, “Sebenarnya kenapa, sih dengan dia?” lanjutku ketika Nana semakin tak berkedip, lebih tepatnya melotot.

“Wait! Tunggu.” Nana langsung bangkit dari posisi rebahannya, “Itu jaket siapa? Kaya jaket cowok, deh?”

“Ini… Ariel. Jaketnya Ariel.”

“Yang bener? Ariel ngasih jaketnya ke kamu?” katanya dengan nada histeris, lebay walaupun sebenarnya hatiku juga bertiak lebay.

“Gak dikasihkan, Cuma dipinjamkan karena tadi aku keluar tidak memakai jaket.” Ku atur suaraku senormal mungkin. Karena sejak tadi sebenarnya aku sangat ingin tersenyum ketika mengingat manusia satu itu.

“Aira… gila… benar-benar gila.” Apaan ini? Aku waras. Aku masih normal.

“Aku? Kamu yang gila.” Protesku tak terima karena dikatakan gila, walau sebenarnya aku sudah mulai gila. Gila karena bayangnya yang terus berkelebat masuk ke dalam benakku. “Udah ya? Gilanya besok lagi. Aku mau tidur dulu. Good night sweetie.”

“Eh Ara… kenapa ya Ariel pinjami kamu jaket? Padahal dia tidak pernah peduli dengan makhluk yang bernama wanita. Apa karena kau kenal dia sehingga dia menjadi baik padamu? Tapi kurasa tidak, deh itu bukan alasan sama sekali. Kau kan makhluk dalam goa, sangat aneh bila kau tiba-tiba dekat dengan seseorang. Apalagi sampai dipinjami jaket segala. Kenapa ya?”

“Hiiihhh… Nana please deh! Ngobrolnya besok saja ya? Aku ngantuk.” Kataku mendelik ke arahnya, “sekali lagi kau cerewet, ku bunuh kau!”

“Ihhh… sadis banget Aira.”

“Udah makanya diam.” Sahutku ketus.

“Orang kaya kamu gak pantes ngomong ketus. Lucu tau jadinya.”

“Nana, please… izinkan aku istirahat mala mini.” Ujarku memelas.

“Ya udah deh, selamat tidur cinta. I love you.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar