Rabu, 25 Maret 2015

Love in Another World

Deg... deg... deg...

Tidak seperti biasanya. Kenapa tiba-tiba jantungku berulah? Padahal aku hanya sedang bermain handphone. Sedang berbicara dengan teman melalui handphone di aplikasi whatsapp. Tidak ada yang spesial memang, hanya chatting dengan teman kuliahku dulu. Itupun perempuan, sama seperti aku, aku juga perempuan. Karena memang teman-teman kuliahku dulu kebanyakan perempuan. Dari tiga puluh orang di kelas hanya ada tiga laki-laki dan selebihnya perempuan, namun di tahun ketiga kuliah manusia berjenis kelamin laki-laki hanya tersisa satu, yang lain kemana? Entahlah aku tidak tahu.

Saat ini, kami -aku dan temanku- sedang membicarakan suatu masalah yang tak kunjung kami selesaikan. Pekerjaan. Ya pekerjaan yang tak kunjung kami dapatkan. Walaupun kami sudah mengirim surat lamaran ke banyak instansi tapi tak juga ada panggilan kerja yang kami dapatkan.

Jangan heran jika setelah lulus kami belum juga mendapat pekerjaan karena disini -di tempatku- KKN itu masih berlaku. Memang sih bukan KKN seperti zaman dulu, emmm... maksudku korupsi memang tidak ada -atau ada tapi aku tidak tahu, entahlah- tapi kolusi dan nepotisme-nya masih marak disini. Jadi, bisa dikatakan orang kaya akan menjadi semakin kaya dan begitupun sebaliknya. Orang miskin akan semakin terpuruk dalam kemiskinan.

Hey, kenapa aku bicara tidak jelas kemana arahnya begini? Oke kembali ke pokok permasalahan yang ku hadapi. Bukan. Bukan tentang sulitnya mencari pekerjaan tapi tentang kenapa aku jadi berdebar hebat seperti ini.

apa yang membuatku melihat-lihat kembali kontak whatsapp, aku pun juga tidak tahu karena aku selalu chatting dengan orang itu-itu saja. Semakin ku geser layar ke bawah dan semakin aku berdebar.

Deg

Nama itu, nama yang selalu menghantuiku lima tahun terakhir ini. Nama yang selalu membuatku berdebar, nama yang terpatri rapi di hatiku dan nama yang selalu bertahta dengan sombongnya di istana hatiku.

Dia

Kenapa lagi-lagi muncul setelah menghilang tanpa kabar.

Joe Richard, apa kabar kau disana? Kemana saja selama lima tahun ini? Masih ingatlah dirimu akan diriku?

Dengan perasaan membuncah bahagia, kecewa, haru dan entahkan yang tak bisa ku sebutkan, aku mengirim pesan padanya.

Hi, how are you, there? Do you remember me?

Pending. Belum juga terkirim. Dia tidak sedang online. Lagi-lagi rasa kecewa menghampiriku. Untuk apa rasa kecewa itu sebenarnya? Bahkan mungkin saja dia tidak mengingatku dan melupakanku sama sekali. Lalu untuk apa aku terus mengingatnya?

Sembari menunggu terkirim, aku teringat peristiwa lima tahun lalu.

Hanya untuk mengisi waktu luang, aku iseng membuka aplikasi chatting yang cukup populer waktu itu. Bahkan temanpun aku tidak punya. Akhirnya aku mencari Chat room untuk mencari teman.

Mataku seolah terpaku pada satu chat room. Moz-maputo. Nama yang cukup unik ku rasa. Ku lihat profil room tersebut, hanya ada beberapa orang di sana, dan yang cukup mencengangkan adalah mereka semua berbahasa asing. Bahasa yang tak ku mengerti.

Aku semakin tertarik dengan Chat room tersebut. Akhirnya dengan bahasa inggris yang cukup pas-pasan aku masuk chat room.

Hi, All. Sapaku kala itu.

Namun tidak ada yang menjawabku dan seketika itu orang-orang dalam room berhenti beraktivitas. Mereka off.

Aku hanya bisa mendesah. Rupanya kehadiranku tidak diharapkan, setidaknya itulah yang ada di pikiranku. tidak apa-apa mungkin memang bukan tempatku.

Aku sudah hampir saja off ketika ada tanda private chat, yaitu ada lampu berwarna oranye berkedip-kedip.

Joe Richard: Hi, may I know you? Who are you? Your name I mean.

Aku tersenyum. Rupanya kehadiran ku masih diharapkan walau bukan dalam chat room, melainkan dalam bentuk private chat.

Bela: Hi, I'm Bela.

Joe Richard: ASL, please.

Bela: 17 years old. Female. Indonesia.

Joe Richard: i'm 23 years old. Male. Maputo.

Bela: Maputo? Where is it?

Joe Richard: Maputo is the capital of Mozambique.

Bela: Mozambique? So, you are front Africa?

Joe Richard: Yes, you are right.

Bela: wow, we are in a so different country. It is nice to see you, by the way.

Joe Richard: great to see you, too. By the way, canai we be friends?

Itulah awal perkenalan kami. Dia mengajakku berteman. Walaupun kemampuan berbahasa inggris ku sangat minim, tapi aku menyetujui permintaan pertemanannya. Hitung-hitung buat belajar. Tidak ada ruginya, bukan berteman sekalian belajar. Siapa tahu dia bisa bersabar mengajari ku berbicara bahasa inggris.

Waktu itu yang ada di pikiran ku hanya satu. Bila dia tidak bersabar mengajari ku, aku yakin dia pasti akan meninggalkan ku begitu saja. Tidak rugi di dia dan tidak rugi juga di aku. Itulah mengapa aku bersedia berteman dengannya.

Apa indahnya chatting dengan orang yang sangat minim kosakata? Ku rasa tidak ada indahnya sama sekali. Yang ada hanyalah harus punya stok kesabaran ekstra. Harus ekstra sabar menunggu setiap jawaban yang akan ku berikan karena tidak jarang juga aku harus membuka kamus ku hanya untuk menemukan kosakata yang tepat. Dan menemukan kosakata yang tepat tidak lah membutuhkan waktu yang sebentar. Selain itu dia juga harus bersabar menunggu aku selesai merangkai setiap kata yang ingin ku ucapkan. jadi benar, bukan dia harus punya kesabaran ekstra?

Pada awalnya aku meragukan itu.

Namun,seiring berjalannya waktu keraguanku mulai terkikis. Dia sangat,sangat dan sangat sabar teradapku. Sabar mengadapi aku yang selalu lambat ketika kami sedang chatting. Sabar dengan kemampuan bahasaku yang tak seberapa. Sabar mengajari aku bahasa inggris. Pokonya dia sangat sabar. Kesabarannya menghadapiku melebihi kesabaran yang kakakku miliki.

Bersama dia, banyak pelajaran yang ku dapat. Baik itu pelajaran berupa materi seperti yang ku dapat dari sekolah maupun pelajaran moral. Suatu pelajaran yang sangat berharga yang ku dapat darinya adalah tentang satu kata. Waktu.

Tentang bagaimana waktu satu detik itu bisa menjadi sangat berharga. Tentang bagaimana seorang manusia itu harus disiplin waktu. Tentang bagaimana dia sangat menghargai satu detik waktu seolah itu adalah hal yang sangat berharga dan sangat mahal yang harus dia pertahankan. Seolah waktu satu detik adalah segunung harta karun.

Pelajaran tentang waktu. Pelajaran yang tak pernah ku dapat dari lingkunganku, baik itu tetangga, teman dan kebanyakan orang yang pernah bersua dengan ku.

Pelajaran lain yang masih sama pentingnya dengan waktu yang ku dapat darinya adalah tentang janji. Tentang bagaimana seseorang harus berpegang teguh pada janji yang telah dia ikrarkan. Tentang bagaimana janji adalah sumber kepercayaan yang diciptakan manusia. Bila janji sudah terabaikan maka terabaikan pula lah kepercayaan orang yang telah kita beri janji.

Dua pelajaran yang terlalu berharga untuk diabaikan.

Dua pelajaran itulah yang pernah membuat kami bertengkar. Dan semuanya berasal dari aku. Bukan. Bukan berarti aku tidak menghargai waktu dan selalu mengabaikan janji. Tidak, bukan itu.

Karena, tentang waktu, aku selalu menghargai waktu setiap serikat, sama seperti dia. Aku juga selalu tepat waktu, bukan tepat waktu lagi melainkan in time apalagi yang namanya terlambat, aku tidak pernah melakukannya. Bila orang-orang di sekitar membicarakan acara jam 07.00 maka artinya adalah jam 08.00. Namun tidak bagiku, yang namanya jam 07.00 artinya tetap jam 07.00 bukan jam 07.05 apalagi jam 08.00. Aku sangat membenci jam karet mereka.

Karena tentang janji, aku juga selalu berpegang teguh pada janji yang telah ku ucapkan.

kembali pada masalah yang membuat kami bertengkar. Karena perbedaan waktu yang lumayan lama, kami sering membuat janji untuk online pada jam sekian. Namun, pada suatu keadaan aku tidak bisa menepati janji karena jaringan tidak memungkinkan. Jaringan internet sangat jelek waktu itu. Itulah mengapa aku tidak bisa online dan membiarkannya menungguku selama berjam-jam. Jadi itu salah siapa? Tentu saja itu salahku karena aku berjanji sementara aku tidak tahu bagaimana keadaan esok hari.

Maka, jangan pernah berjanji sementara kamu tidak tahu ada sesuatu apa yang sudah menantimu di depan.

Lagi-lagi, kesabarannya benar-benar membuat ku semakin jatuh dalam pesonanya. Tunggu, apa yang ku bilang tadi? Jatuh dalam pesonanya? Entahlah aku sendiri bingung. Karena aku mulai kecanduan chatting dengannya. Aku bahkan rela menghabiskan sisa waktuku hari ini hanya dengan chatting bersamanya.

Aku rela tetap terjaga hingga tengah malam hanya untuk menunggu dia online. Aku bersedia bangun dini hari hanya untuk menyapa dan mengucapkan good night padanya. Pun dia padaku, dia tidak pernah absen menyapaku. Dia selalu mengingatkanku ini itu yang sering aku lupakan.

Dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Namun dia juga satu-satunya orang yang berhasil menjerat ku dalam sejuta pesona yang ia miliki.

Hingga aku tersadar bahwa sesuatu yang maya selamanya akan tetap maya. Sesuatu yang maya pasti akan berakhir dengan segera. Sesuatu yang maya sulit untuk direalisasikan. Begitupun dia. Dia adalah satu-satunya yang paling berharga yang ku miliki di dunia maya. dan dia juga menghilang secepat dia datang.

Aku dengan kesibukanku di dunia nyata, begitupun dia. Aku sibuk dengan urusan sekolah ku. Dan dia juga pernah berkata akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri, entah Eropa, entah Amerika dia tidak mengatakan secara detail.

Joe Richard: I will go to abroad.

Bela: where?

Joe Richard: some where.

Bela: how long?  How long you will be somewhere?

Joe Richard: I don't know yet. May be until I finish my study there.

Bela: What the meaning of your status?  Tanyaku ketika ku lihat status yang dia tulis di aplikasi chatting yang kami gunakan.

Joe Richard: two hearts one love. That's the reflection of us. That is you and me, we have two hearts but the love of us is only one.

Di saat bersamaan, aku merasa sedih namun aku juga merasa sangat bahagia. Entahlah bila sederet kalimat yang dia ucapkan itu hanya untuk menghibur ku, aku pun tidak tahu.

Namun, satu hal yang selalu ku tahu. Dia selalu bisa membuat ku merasa menjadi yang ter. Menjadi wanita tercantik. Menjadi wanita terhebat. Menjadi wanita terpintar. Dan menjadi wanita ter- lainnya. Ku rasa aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Itulah pesan terakhir yang ku dapat darinya. Two hearts one love dua hati satu cinta.

Hari-haripun berlalu. Tanpa ada kabar darinya. Bagai menghilang di telan bumi. Hilang tanpa jejak. Apa kabarnya dia di sana?

Tetap sama. Masih tidak ada kabar darinya. Chat bahkan tidak terkirim. ku coba menghubungi nomor yang pernah dia berikan padaku namun hasilnya tetap sama. Setiap kali aku mencoba menelpon setiap kali itu pula selalu operator yang menjawab.

Mungkin memang hanya sampai disinilah kisah kami berakhir. Tanpa Kata good bye atau kata perpisahan lainnya.

*

I'm sorry. Who are you? Do we know each other? I've got short term memory.

Itulah jawaban yang ku dapat. Sejujurnya aku kecewa. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Karena aku tahu, waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang telah ia lakukanat, banyak hal pula yang telah ia lewatkan, banyak hal yang ia dapatkan dan banyak hal pula yang ia lupakan. Termasuk aku.

Walaupun aku sangat kecewa, tapi aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku dapat memahami bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi. Hey, aku sudah pernah bilang bukan bahwa hal yang semu itu mudah dilupakan. Begitupun aku. Aku hanyalah semu baginya. Aku tidak kaget sama sekali. Sungguh.

Aku masih menimbang handphone ku. Masih berpikir apakah aku harus membalas dan memberitahu nya tentang aku atau tidak. Ataukah aku membiarkan saja hal ini berlalu?

Karena aku tahu penantianku selama ini sia-sia. Aku terus mengingatnya dalam setiap langkah yang ku bawa. Aku tidak pernah melupakannya dalam setiap hembus nafas ku. Tapi aku bisa apa bila dia melupakanku?

drrrttt drrrttt handphone ku bergetar lagi. Asal kalian tahu,.aku tidak pernah memasang nada dering di handphone ku. Karena menurutku itu sangat berisik.

Satu pesan whatsapp masuk. Dari dia -Joe.

Oh, sorry sorry sorry. I now remember you. You are someone i knew long time ago, about five years ago, aren't you?

Seketika mataku berbinar. Aku bahkan sampai menitikkan air mata bahagia. Akupun tidak menyangka dia masih akan mengingat aku. Rasanya aku ingin tertawa dan berteriak bahagia. Ingin berteriak pada dunia bahwa aku sangat bahagia karena dia masih mengingat aku.

Jangan pernah berburuk sangka sebelum kau mendengar penjelasan langsung darinya.

Segera ku ketik pesan sebagai balasan you still remember me? Wow it is amazing. Great to know.

'How do you know me?'

I know you by your name and your phone number you gave to me long time ago.

'Wow, you are so smart, you have sharp memories. And you are so excellent. Wow, it's amazing. You can remember me just by my name.'

it's just an ordinary thing I think. I have only one Joe Richard in my life.

'There are so many Joe Richard outside. But you still remember me only by name. You're so excellent, you know?'

Sudah ku bilang bukan bahwa dia sangat lihai membuatku merasa menjadi yang ter … seperti Itulah contohnya. Wanita mana yang tidak akan meleleh jika setiap hari mendapat pujian.

Karena pada dasarnya wanita memang suka di puji.

Komunikasi kami masih berjalan lancar walau hanya dengan sebuah pesan singkat. Walau tidak setiap hari namun intensitasnya masih terbilang sering.  Kerena dia sibuk dengan pekerjaannya, mungkin. Dan aku sibuk dengan kegiatan sosialku bersama anak-anak kecil. Dan semakin kami sering berkomunikasi semakin bertambah pula rasa yang menumpuk dalam hatiku. Aku tahu ini hanya harapan semu.

Lagi-lagi masalah kehidupan datang menerpa, membuat ku tidak bisa berkirim pesan dengannya. Ibu meminta ku untuk menikah. Hah, yang benar saja. Bagaimana aku bisa menikah dengan orang lain sementara hatiku masih tertambat di tempat nun jauh di sana. Aku tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Hingga ibu menyita handphone ku. Itulah mengapa kami menjadi jauh kembali. Namun kali ini bukan kerena dia melainkan karena aku.

Butuh waktu lima bulan lamanya untuk meyakinkan ibu bahwa aku belum siap menikah sekarang. Mungkin setahun lagi, dua tahun, tiga tahun, atau … entahlah. Itu tidak penting kapan aku akan menikah. Yang terpenting sekarang adalah aku bisa meyakinkan ibu bahwa aku tidak akan menikah dalam waktu dekat ini. Alasan apa yang ku gunakan bukanlah hal penting juga.

Urusan dengan ibu beres. Aku kembali menghubungi dia, namun lagi-lagi aku kehilangan jejaknya. Aku tidak bisa menghubungi dirinya. Aku tidak bisa menggapai dirinya.

Mungkin kami memang belum berjodoh. Kyaaa!!!!  Apa yang ku katakan? Berjodoh? Sebegitu inginkah aku menghabiskan sisa hidupku bersamanya? Jawabnya adalah... ya.

Sudah beberapa hari dan aku masih belum bisa menggapai dirinya. Joe kenapa namamu selalu terngiang di telinga. Mungkin aku akan benar-benar gila. Ya gila karena dirinya.karena seseorang yang bernama Joe Richard.

Sudahlah. Biarlah semua berlalu. Hidup akan terus berjalan, bukan?

Handphone ku berdering nyaring ketika aku sedang mengajari keponakanku matematika. Segera ku lihat siapa penelponnya. Deg. Nomor ini. Aku tahu pemilik nomor ini.

Kenapa dia datang di saat aku sedang berusaha melupakan rasaku padanya?  Dan kenapa harus pergi di saat rasaku semakin menumpuk?

Hi. Sapaku setelah aku menjawab teleponnya.

'Hi. Bela? How are you by the way?'

Me? As usual I'm fine, it's better than yesterday.

'It sounds great. but the greatest thing is finding you on viber. I'm very glad to see you here, you know. It's so amazing to reach you here. We can keep in touch each other, we can make free call we can chat and I can hear your voice, I can hear you laugh. I love listening you laugh. I want to be there by your side. To take you in to my arms. To hold you tight. Bela, I love you.'

Suaranya. Aku langsung jatuh cinta pada suara itu. Suara yang terkesan lembut, ceria dan seksi. Aku jatuh cinta pada suaranya. Bukan. Bukan hanya pada suaranya tapi pada orangnya juga. Karena aku sudah jatuh cinta padanya.

Mendengar dia mengucap kata I love you adalah hal terindah yang pernah aku alami. Hal terindah yang pernah aku dengar.

Lagi-lagi hubungan kami mulai membaik. Aku juga mulai tahu hal apa yang dia sukai. Hujan. Ya, hujan. Dia bilang dia suka hujan. Bahkan kami pernah berkhayal bahwa kami sedang bermain di bawah guyuran air hujan. Dan dia akan memelukku selama itu. Ku rasa setelah ini aku juga akan menyukai hujan.

Namun lagi dan lagi. Hubungan baik itu kembali renggang ketika tanpa sadar aku membuat kesalahan. Aku mengirim pesan dengan emoticon menutup mulut dengan jari telunjuk. Dia marah besar waktu itu karena gerakan tangan seperti itu sangat kasar di negaranya.

Kami hidup di dua benua berbeda dengan budaya yang berbeda. Lembut dalam budayaku, namun kasar dalam budayamu.

Sungguh sulit menyatukan segala sesuatu di dalam lautan perbedaan.

Minta maaf adalah satu-satunya hal yang dapat ku lakukan. Dia bilang dia memaafkan ku. Namun kenyataannya, semenjak kejadian itu dia tidak lagi bisa ku gapai. Mengirim pesan, ku lakukan namun tak ada balasan. Menelpon, juga ku lakukan tapi tak juga ada jawaban. Dia seolah menghindar dariku, atau memang menghindar?

Mungkin memang itulah pesan terakhir yang ku terima darinya. Ucapan selamat tidur. Good night, in case you are in bed already.

*

Hujan. Hujan ini mengingatkanku akan dirinya yang entah ada dimana. Ini bulan ketiga semenjak kejadian itu. Aku belum mendapat kabar sama sekali. Aahh sudahlah. Hidup terus berlanjut jangan menyesali yang telah lalu.

Karena pada hakikatnya penyesalan itu selalu datang terakhir, namun tertanam abadi di dalam hati.

Penyesalan bukan untuk diratapi, bukan untuk diperbaiki, namun penyesalan untuk dijadikan pelajaran.

Penyesalan tidak bisa kita perbaiki, yang bisa kita lakukan adalah berhati-hati, melakukan yang terbaik, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama yang berakibat penyesalan tak berujung.

Ya, aku harus bangkit.

Perlahan aku berjalan keluar rumah dan tenggelam dalam dinginnya guyuran hujan. Ku langkahkan kakiku ke taman belakang, duduk dalam kursi kayu tua.

Rasa sesak yang selama ini tersimpan rapat di hati, akhirnya tumpah juga. Luruh bersama beningnya tetesan hujan. Aku menangis. Ya untuk pertama kalinya aku menangis. Menangisi orang yang aku bahkan tak tahu dia ada dimana. Aku menangis hebat kala ku ingat dia pernah berkata bahwa dia ingin bermain hujan bersama ku dan memeluk ku. Aku menangis karena aku tahu, itu tak kan pernah terwujud.

Tangis ku bahkan belum berhenti ketika ku rasanan seseorang mendekat. Tapi aku tak mempedulikannya karena aku ingin menikmati hujan ini bersamanya, walau dia hanya ada di dalam anganku.

Aku masih tidak mempedulikan manusia di belakang ku hingga dia berkata. "hai cantik, hujan akan terasa lebih indah bila dinikmati dengan senyum dan tawa, bukan dengan air mata" (anggap saja bahasa portugis)

Seketika tubuhku menegang mendengar suaranya. Suara itu. Bahasa itu. Itu bahasa portugis, kan? Siapa yang bisa bahasa portugis di sini? Tidak ada.

Aku berbalik menghadap yang tadi ada di belakang ku. Tangis ku langsung berderai hebat. Apa aku begitu merindukannya sampai aku berhalusinasi dia ada di sini?

Ku lihat dia berjalan ke arahku. Menangkup kedua pipi ku dengan kedua telapak tangannya. Menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Kemudian dia menarikku ke dalam dekapan hangatnya.

Apakah aku bermimpi? Ya Tuhan, bila memang aku sedang bermimpi, biarkan aku bermimpi selamanya. Siapapun, tolong jangan bangunkan aku tidur ku.

Namun bila ini nyata, jangan pernah bawa dia pergi dari sisiku, ya Tuhan. Karena aku hanya ingin bahagia bersamanya.

Bersama Joe Richard.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar